Arus Utama Islam (Chapter 3)

July 15th, 2008 by yanux

Ada banyak alasan mayoritas muslim melakukan ibadah haji dan umroh seperti misalnya sebagai perjalanan ritual penyucian jiwa; tempat mendekatkan diri kepada Allah; mencari kedamaian; tempat menebus dosa dan taubat; serta melaksanakan haji sebagai kewajiban rukun iman Islam. Inilah main stream yang menjadi kontradiksi ditengah kecamuk resesi ekonomi yang memunculkan banyak kemiskinan. Bahkan dapat dikatakan prosesi spiritual yang ngotot ini mungkin hanya terjadi di kalangan umat Islam.

Ngotot yang sekuel dengan memaksa karena umat muslim berpatokan haji kepada rukun Islam yang notabene wajib dilaksanakan. Padahal esensi ibadah haji, menurut Drs KH Djudjun Djunaedi, MAg (pengasuh ponpes Garut - Antara) sebenarnya adalah ibadah "ghairu mahdoh", yakni ibadah yang lebih menekankan kepada hubungan sosial (hablun minannas), sehingga kuat dimensi sosial-kemanusiaannya.

Ada dua analogi. Pertama, jika kita membeli sebuah minuman jus maka hukumnya adalah mubah jika diminum (dalam status hukum dunia islam boleh dilakukan bahkan cenderung dianjurkan, tetapi tidak ada konsekuensi pahala-.id.wikipedia), namun akan menjadi haram hukumnya bila uang untuk membeli minuman tsb berasal dari hasil mencuri. Kedua, jika dihadapan kita terdapat daging babi maka jelas-jelas hukumnya (QS. 2:173, 16:115) adalah haram jika dimakan, tetapi adalah wajib hukumnya jika kita akan mati apabila kita tidak memakan daging tsb. Sedikit analogi yang menyiratkan fleksibilitas hukum dalam memberi sudut pandang pada sebuah kasus.

Haji adalah hak setiap manusia dalam memenuhi hasrat spiritualnya, dan karena dengan Allah adalah hubungan yang sangat pribadi maka wajar jika setiap insan memiliki cara masing-masing. Melihat pernyataan bapak pengasuh ponpres diatas maka ada baiknya jika kita melihat dari segi manfaatnya dari keutamaan haji ini.

Menurut MenAg tahun 2007 jumlah calon jemaah haji Indonesia mencapai 210.000 dan jumlah umat Islam Indonesia adalah jauh lebih besar dibanding jamaah haji dari 22 negara Arab (-Antara). Data ini menunjukan begitu besarnya antusias warga muslim kita dalam meraih pemantapan spiritualnya. Yah walaupun faktanya gelar haji yang didapat dari hasil perjalanan ruhani ini tidak juga banyak menelurkan jiwa-jiwa yang benar-benar mencerminkan esensinya (seperti si haji yang korupsi, si pak-bu haji yang sombong, yang masih doyan ngibul, yang masih senang bergunjing, yang masih senang judi) maka dikatakan ibadah wajib ber-haji ini korelasinya tidak signifikan terhadap keimanan. Lalu dimana letak hikmah haji?? Apa keistimewaannya??

Tidak sedikit biaya yang ditelan dalam perhelatan ibadah ini, minimal 25juta rupiah per orang. Sungguh ironi mengingat berjuta-juta rakyat Indonesia kelaparan, warga miskin yang tak mampu membayar biaya kesehatannya, penduduk direnggut kebodohan karena tak ada biaya, dan berbagai derita yang selalu menghantui, sedangkan melihat jumlah jamaah haji yang begitu besar menghamburkan uangnya untuk sekedar mengulangi ritual hajinya dengan dana yang sangat berarti bagi orang miskin. Andai separuh saja dari total jamaah mau menyalurkan kepekaannya terhadap penderitaan sesama maka minimal 2.5 trilyun rupiah adalah jumlah yang sangat besar ini dapat mengurangi jutaan perut-perut yang kelaparan.

Perspektif kepekaan sosial adalah cerminan utama realisasi dari keimanan, karena masalah dengan hubungan Allah adalah hubungan vertikal yang sifatnya tersembunyi. Orang lain akan lebih mudah menafsirkan manfaat dari keimanan seseorang apabila kita mau peduli akan kesejahteraan sosial. Kalau hanya menyerap kenikmatan bathin sendiri dengan cara memenuhinya ala ritual-ritual mahal itu sedangkan kita seolah-olah tak memiliki kepekaan terhadap sekeliling, kedengarannya terlalu egois.

Lagi pula bila alih-alih untuk dekat dengan Allah, kenapa harus jauh-jauh ke Arab? Berat diongkos bukan? Kenapa harus jauh mencari perwujudan Allah yang kata orang ada jauh diatas langit? Coba saja istilah, ‘berdoalah pada yang Diatas (Allah)’, pasti familiar bukan? Apa dengan haji untuk biar orang tahu bahwa kita termasuk orang alim? Malah jadi ujub (ria, pamera).

Persepsi umum umat muslim bahwa Allah seperti jauh dari kita adalah sebuah kontradiksi. Allah itu ada dimana-mana, Allah selalu bersama kita kemanapun kita berada (QS. 57:4). Tapi mengapa sepertinya kita jadi mengabaikan hakikat haji dengan alasan yang bermacam-macam. Ibadah adalah baik, namun yang lebih baik adalah yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi (agar tidak menjadi ria) karena Allah maha mengetahui (QS. 2:271).

Manusia adalah makhluk ciptaan-NYA, segala yang kita lakukan adalah kehendak-NYA, dan semua kejadian adalah takdirnya. Setiap sel dari tubuh kita adalah ciptaan-NYA. Segala aktivitas sel kita juga atas kehendak-NYA, dari mulai pertukaran proton, Na, K serta segala kekompleksan mekanismenya yang tak pernah kita sadari adalah atas kuasa dan kebesaran-NYA. Kumpulan sel membentuk tubuh kita ini adalah sudah takdir-NYA, yang dengan kuasa-NYA tidak ada satupun manusia yang sama persis padahal sudah ribuan tahun Tuhan menciptakan berbagai bentuk manusia. Bahkan benda-benda, tumbuhan, binatang, gunung, langit dan lautan tak ada yang memiliki kekuatan untuk menggerakannya selain Allah. Kedudukan manusia bisa jadi seperti pandangan Bang Cokhy bahwa manusia adalah makhluk kemungkinan (red-yang persepsi kemungkinan ini sama kedudukannya dengan benda2 lain dibumi), dimana tidak ada satu kejadian pun yang luput dari aturan Tuhan.

Jika manusia dan sekelilingnya serta segala kegiatannya adalah atas kuasa-NYA artinya Allah hakikatnya adalah selalu bersama kita, dekat bahkan selalu menyelubungi disetiap waktu dan keadaan. Lalu mengapa manusia melupakan keberadaan-NYA?

Untuk mendekat dan mencari kebenaran-NYA manusia harus kembali pada kesucian, kembali pada kemurnian hati, ketulusan menjalankan segalanya dalam hidup dan dikembalikan bahwa hidup adalah milik-NYA. Bahwa harta adalah bukan milik kita tetapi titipan-NYA, dimana hanya manusia makhluk yang diberi akal maka manusia adalah khalifah yang bertugas menjaga kehidupan dan keseimbangan sosial dan lingkungan yang adalah manifestasi ciptaan-NYA.

Mengambil istilah Cak Nun untuk ironi beratus ribu jamaah haji dan bahkan umroh ditengah jutaan kelaparan dan kemiskinan rakyat maka legitimasi yang diberikan adalah secara ekstrinsik melakukan ibadah tetapi secara intrinsik mereka tidak beragama.

Sekedar perenungan, yang ketika anda berkesempatan membaca inipun, sudah pasti Allah sudah memasukan kedalam catatan-NYA yang disebut takdir. Allah Maha Segala.

Arus Utama Islam (Chapter 2)

July 8th, 2008 by yanux

Kokohnya sebuah agama terjadi karena para penganutnya dengan setia melaksanakan tradisi dan ajaran-ajaran yang diwariskan dari pendahulunya. Penyebaran ajaran dilakukan secara berkesinambungan agar rantai kepercayaan tsb tidak terputus disuatu masa dan dapat selalu diturunkan pada generasi berikutnya.

Sebuah keluarga tanpa disadari memiliki tradisi secara paksa mewariskan keyakinan beragamanya kepada keturunannya. Memang adalah sebuah kewajiban jika memberikan pelajaran yang baik kepada anak mengenai konsep dasar pemahaman akan Tuhan akan tetapi bukanlah hak orangtua untuk marah dan kecewa jika ketika dewasa sang anak memilih agama yang berbeda. Karena agama manapun tidak ada yang mengajarkan untuk memaksakan keyakinannya kepada orang lain, walau anak sekalipun.

Namun tidak dapat dipungkiri, kebiasaan warisan keyakinan ini sangat efektif penyebarannya. Seperti Islam yang merupakan ajaran warisan Nabi Muhammad sejak tahun 610 M (tahun pertama keRasulannya) dapat dirawat penyebarannya melalui sahabat dan pengikutnya hingga kini.

Dapat dipastikan bahwa metode utama warisan keyakinan Islam adalah belajar dengan ‘meniru’ (mungkin terdengar aneh), tapi coba lihat cara mengajar agama disekolah-sekolah atau ditempat-tempat pengajian atau mungkin dilingkungan rumah sendiri. Para anak didik dituntut untuk melakukan hal yang sama dilakukan gurunya (bisa orangtua atau guru agama) sebagai contoh seperti yang dilakukan Rasul, dari mulai cara melaksanakan syariat (wudhu, sholat, puasa) hingga pemahaman-pemahaman akan gambaran tentang Islam dan konsep Sang Pencipta. Ada hal yang wajib dan yang sunah. Wajib hukumnya untuk  sholat sedangkan sunnah adalah perbuatan yang dilakukan Rasulullah yang jika umat Islam menjalankannya maka mendapat pahala.

Arus utama pemikiran Islam saat ini adalah mengabaikan kontradiksi mengenai konsep “pahala dan dosa”; “surga dan neraka”; “takut kepada Allah”; “takut mati”.

Warisan pemahaman mengenai “pahala dan dosa”, bahwa kita diajarkan untuk melakukan kebaikan agar mendapat pahala sebanyak-banyaknya untuk bekal diakherat nanti dan kalau berbohong atau berbuat jahat maka kita berdosa dan mengurangi timbangan amal kita.

Entah dari mana awal konsep perniagaan ini, namun agak janggal karena sepertinya dengan Allah kita menjadi hitung-hitungan. Bukankah nikmat dan anugerah yang diberikan-NYA sudah begitu berlimpah, seperti mata yang dapat melihat, organ tubuh yang berfungsi dengan baik, berpikir dan bekerja serta bergerak adalah pemberian-NYA yang patut kita jadikan alasan untuk bersyukur dan mengingat-NYA setiap saat. Setiap nafas saja yang sejak merupakan anugerahnya sejak lahir kita tidak pernah menghitung, Tapi kok sholat yang hanya 5 menit saja kita minta pahala dan balasan??

Dengan kemelimpahan nikmatnya saja kita tidak mampu membalas kebaikan-NYA, tapi bila kita puasa sehari saja atau sekedar menyebut nama-NYA, lantas kita mengharapkan pahala dan balasan dari-NYA yang setimpal (bahkan ada yang mengharap limpahan rejeki dan tempat yang enak disurga). Apa tidak berlebihan namanya???

Sedangkan ada yang sholat dan puasa kemudian melakukan kejahatan, lalu untuk menutupi dosanya, ia tambahi pahala dengan bersedekah sebanyak-banyaknya dan berhaji tetapi kejahatannya tetap dilakukan karena konsep perniagaan dengan Allah tadi itu yang menurut perhitungannya sudah mencukupi hitungan pahalanya sebagai bekal akherat.

Begitulah contoh potret perniagaan dengan Allah. Dan kenyataannya, banyak yang melaksanakan kewajiban-kewajiban rukun Islam (syahadat, sholat, zakat, puasa, haji) yang masih mengharapkan pahala tanpa menyadari ketidak adilan sikap kita terhadap nikmat Allah atas ‘gagasan jual beli’ ini.

Kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan perintah-NYA dan menjauhi larangan-NYA. Sholat menjadi wajib karena hakikat sholat adalah mengingat Allah (QS. 20:14). Kewajiban bagi kita bersyukur dengan mengingat-NYA setiap saat karena sebaik-baiknya ibadah adalah mengingat Allah (QS. 29:45) dan ikhlas dalam berserah diri (QS 4:125). Ikhlas adalah tidak mengharap imbalan apapun, baik itu surga sekalipun.

Kemudian jika kita mengharapkan surga bagaimana? Boleh jadi surga itu sendiri sebenarnya tidak ada. Karena jika kita masih mengharap surga, maka akan sama halnya dengan kita melakukan ibadah dengan mengharap pahala. Kalau ikhlas, ya ikhlas saja, tidak meminta atau berharap sedikitpun akan balasan. Kalau kita masih mengharap surga, berarti sama saja kita tidak ikhlas. Terus bagaimana dengan neraka?

Bisa jadi tempat yang namanya neraka pun sebenarnya hanya kiasan dan bukan seperti yang digambarkan bahwa neraka itu ruangan penuh api dan tempatnya setan, bahkan lebih dahsyat lagi anggapan bahwa Allah tempatnya di surga sedangkan neraka tempatnya setan. Toh sampai saat ini belum pernah ada saksi yang benar-benar telah menyaksikan bagaimana gambaran neraka itu bisa disebut sebagai tempatnya setan dan penuh dengan api. Kalau setan di neraka, betapa hebatnya setan bisa menciptakan neraka. Surga adalah ciptaan Allah, maka berarti neraka pun juga ciptaan-NYA. Berarti, Allah berada baik disurga maupun di neraka.

Kemudian kita diajarkan bahwa perbuatan baik itu dari Allah dan kejahatan berasal dari setan. Bukankah anggapan ini malah menyesatkan? Kan sama saja kita menganggap bahwa kedudukan Allah dan setan sama? Bisa jadi konsep setan sendiri juga bukan merupakan suatu zat atau makhluk. Tetapi anasir jahat yang kerap muncul disifat manusia. Dan kekuatan melakukan kejahatan yang ada dipikiran manusia adalah berasal dari Allah.  Pikiran dan kejadian apapun yang ada dikehidupan ini adalah atas kuasa-NYA.

Kita mengenal Asmaul Husna (99 sifat Allah). Tetapi kita hanya dikenalkan sifat-sifat baik Allah, padahal dari 99 tsb juga terdapat sifat buruk. Sehingga ketika melakukan hal jelek maka diklaim berasal dari setan. Padahal yang mengendalikan setan pun berasal dari yang Maha Kuasa, Allah SWT Dzat yang Maha Berkendak.

Kemudian kita diajarkan untuk tidak takut kepada apapun selain Allah. Hal ini menjadi kontradiksi, karena bagaimana kita mau mendekati Allah jika takut? bukankah akan lebih mudah untuk kita mendekat kepada-NYA bila kita dalam keadaan menyayangi-NYA. Cinta-NYA terhadap ciptaan-NYA begitu besar, maka kita pun alangkah nikmatnya jika mampu membalas cinta-NYA.

Takut kepada Allah inilah yang menjadi sumber ide umum bahwa manusia jadi takut mati. Sejak kecil kita selalu ditakut-takuti akan dosa, neraka dan mati. Lah wong kita semua sudah pasti mati kok, inilah kontradiksi yang diabaikan, takut akan hal yang pasti akan kita alami yaitu mati. Inalillahi wa Inna Illaihi Rajiun, manusia berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah. Jika kita sudah tidak mengharaokan pahala-surga dan tidak takut akan dosa-neraka, hanya ikhlas saja bahwa setiap saat apa yang kita lakukan berasal dari kekuatan-NYA dan kekuasaan-NYA itulah Tauhid.

Pemikiran akan kontradiksi ini muncul karena mungkin saja terjadi distorsi pemahaman mengingat ajaran Islam terjadi sudah berabad-abad tahun yang lalu. Melalui proses pewarisan yang mungkin mengalami pergeseran pemahaman hingga akhirnya sampai kepada kita saat ini yang belum tentu sama seperti persis ajaran pada jaman Nabi Muhammad. (coba saja melakukan permainan berbisik berantai, dari sang pembisik dilanjutkan ke teman sebelahnya secara berbisik terus hingga ketika diucapkan kembali sudah pasti beda sumber pembisik pertama dari mulai kata-kata, gaya mengucap atau tanda baca).

Atau mungkin saja pemahaman yang benar adalah yang menjadi arus utama umat islam saat ini yang mengabaikan kontradiksi tsb, atau bisa jadi sebenarnya kontradiksi itu tidak pernah ada.

Hanya Allah yang tahu, Wallahualam. Allah yang Maha Mengetahui, Maha Kuasa, Maha Pemberi Rahmat.

Arus Utama Islam (Chapter 1)

July 6th, 2008 by yanux

Mungkin tidak banyak yang tahu salah satu tesis Cak Nur yang temanya jika diangkat kemasyarakat akan mengurai banyak pro dan kontra. Prof.Dr.Nurcholis Madjid adalah seorang pemikir pembaharu yang mengedepankan gagasan pluralisme disaat Indonesia sedang mengalami degradasi integritas bangsa. Dalam tesisnya, beliau menguraikan kelemahan-kelemahan Islam yang oleh sebagian besar kaum muslim merupakan hal yang tabu. Padahal mengetahui dan memahami kelemahan sendiri adalah titik awal koreksi yang sportif guna membenahi kekurangan yang ada.

Sebelum membicarakan lebih lanjut, ada baiknya kita melihat sebuah rumus jitu yang tidak hanya berlaku untuk penulisan karya ilmiah tetapi juga bagi kebaikan sebuah pribadi maupun negara. Tahapannya yaitu kumpulkan masalah secara subyektif (dari obrolan dan opini) dan obyektif (berdasarkan fakta dan bukti); Identifikasi masalah (problem Identification); dan kemudian Pemecahan masalah (problem solving).

Perbedaan pendapat antar umat Islam hingga terjadi kekerasan (red-peristiwa monas FPI dan AKKBB) yang baru saja terjadi, mencoreng muka sendiri bagi negara mayoritas berpenduduk muslim ini. Sedangkan kasus ini, hanyalah hal kecil masalah yang menyangkut keadaan pola pikir dan sosialita masyarakat muslim di Indonesia. Dan memang masih sangat banyak kelemahan-kelemahan yang menjadi persepsi dari keyakinan umat Islam. Pertanyaannya apakah kita mau sedikit saja mengakui kelemahan-kelemahan itu?

Islam berasal dari bahasa arab (Al-Islam) yang artinya berserah diri hanya kepada Allah. Namun bisa juga diartikan sebagai jalan keselamatan menuju-NYA. Tetapi konsep menyembah kemanunggalan dan menuju Sang Tunggal ini juga berlaku bagi agama lain seperti: Kristen dengan Trinitas yang satu, Hindu dengan Sang Hyang Widi, Budha dengan Sang Hyang Buddha. Meskipun kaya akan pola dan mekanisme beragam dan dianggap berbeda, tapi hakikatnya masing-masing agama menawarkan proses pembebasan kesadaran mutlak menuju Tuhan Maha Esa dan Maha Tunggal. Dan dalam Islam disebut Tauhid.

Bisa jadi sejatinya Tuhan yang kita sembah adalah sama, namun sejarah dan persepsi akan keyakinan yang nyangkut di otak manusia ini yang pada akhirnya menimbulkan banyak pola. Kalau memang pada intinya sama, berarti kedudukan agama tidak lebih tinggi dari Tuhan. Agama apapun judulnya tidak penting karena yang lebih penting adalah Tuhan yang kita yakini, tapi bukan berarti kita mengabaikan agama. Maksudnya begini, agama yang sekarang kita paling yakini kebenarannya adalah sebuah sarana untuk lebih mantap menuju yang Maha Benar. Oleh karena itu, kita tidak berhak menganggap agama lain lebih rendah dari agama kita. Karena semua itu kebetulan saja, kebetulan karena mayoritas kita sejak lahir sudah dalam keadaan agama yang kita yakin benar sekarang ini. Contohnya saya. Kebetulan saja sejak lahir saya lahir dalam keluarga beragama Islam dan didoktrin hingga saya selalu yakin bahwa inilah yang terbaik. Mungkin kalau saya lahir oleh orangtua yang beragama Hindu, hampir sudah pasti saya akan beribadah ke pura.

Karena Tuhan punya takdir. Takdir itu tidak bisa dirubah, sudah begitu mau-NYA. Tapi manusia punya pikiran dan khayalan (yang hal itupun Allah sudah memiliki catatan-NYA). Kalau saya berpikir kenapa Paus atau Dalai Lama tidak masuk Islam saja, kan (jika) saya anggap Islam paling benar. Tapi apa kabar dunia?? Pasti umat akan gempar. Karena sejak lahir beliau-beliau sudah dalam lingkungan agama yang dianut dan dipercayanya. Paus dengan Katolik Romanya, dan Dalai Lama dengan Budha di Tibet. Masing-masing memainkan perannya sebagai pemimpin spiritual. Jika ada yang berpindah keyakinan, itu hak pribadi yang mungkin dalam proses perjalannya mencari kebenaran-NYA, menemukan cara yang lebih tepat sesuai keyakinannya. Dan kita tidak berhak sedikit pun memusuhi agama lain.

Mari sedikit demi sedikit kita kembali mengulas Islam. Jika pada pengertian bahwa Allah adalah yang Maha Tinggi maka tidaklah pantas kita memperdebatkan perbedaan cara antar umat beragama, biar saja masing-masing dengan keyakinannya. Ahmadiyah dengan Mirza Gulham sebagai nabinya, toh apa bedanya kita melihat Kristen dengan Yesus. Lagi pula tidak ada yang lebih penting dari memperdalam keimanan sendiri. Apa dengan merecoki aliran yang berbeda, menambah keimanan sendiri??

Menurut Kang Jalal pemetaan Islam, ada 2 kategori yaitu pertama “Islam Konseptual” ialah konsep Islam yang berupa nilai-nilai yang terdapat dalam al-Quran, Sunah Nabi, narasi buku-buku dan ceramah-ceramah keIslaman; Kemudian yang kedua adalah “Islam Aktual” yaitu nilai dan etos keIslaman yang teraktualisasi dalam perilaku pemeluknya.

Boleh saja mengambil salah satu kebenaran dari sebuah ayat didalam al-Quran, namun tidak berarti mengabaikan dan menutup ayat-ayat lain yang lebih sesuai dengan zamannya. Misalnya, pembuatan film fitna oleh Meneer Wilders karena hanya mengambil petikan-petikan ayat suci Quran (Quran Surat (QS) Al-Anfaal 8:60, An Nisaa’ 4:56, Muhammad 47:4, An Nisaa 4:89, Al Anfaal 8:39) tanpa membedah asbabun nuzul (sebab musabab) turunnya ayat tsb. Kejadian itu dilakukan oleh umat bukan Islam. Tetapi kekerasan yang kerap muncul serta konflik antar sesama muslim boleh jadi juga disebabkan karena umat Islam sendiri yang terlalu secara literatur mencomot ayat-ayat seperti yang dilakukan pak Meneer itu. Padahal ayat QS diatas jika secara harfiah kita telan, maka sudah pasti tidak relevan lagi dengan masa sekarang.

Semacam kompetisi saja agama itu dimata dunia, masing-masing saling menjatuhkan. Tapi ada negara yang mengedepankan isu agama untuk keperluan politisnya, dan agama yang tertuduh semakin menajamkan kuku bersiap menangkis dan menusuk isu-isu yang dilontarkan dengan caranya sendiri. Arus utama yang terjadi didalam Islam saat ini adalah sebanyak-banyaknya mencuplik ayat-ayat yang menunjukan kebaikan dan kekuatan Islam serta beranggapan bahwa Islam adalah yang terbaik, dan tentunya sebanyak kebaikan yang ditonjolkan, maka pihak musuh (yang tentunya dari agama selain Islam) akan menarik pula sebanyak kelemahan-kelemahan ayat Quran sebagai propaganda.

Sebagian besar umat Islam menganggap Yahudi dan Kristen adalah musuh Allah, main stream pemikiran mayoritas muslim menyebutnya - musuh Islam-. Padahal agama tsb adalah warisan dari nabi-nabi umat Islam terdahulu yaitu Nabi Musa dan Nabi Isa. Kitab suci Yahudi dan Kristen pun adalah kitab terdahulu cikal bakal umat Islam, Taurat dan Injil. Maka bukankah berarti Tuhan merekapun sama yaitu Allah SWT. Bahkan mestinya kita (red-umat Islam) berterimakasih pada Yahudi dan Kristen karena berkat mereka maka sampailah Nabi Muhammad sebagai Rasul terakhir yang membawa ajaran kebenaran Allah SWT. Keadaan saat ini terlihat bahwa banyak penafsiran menjadi sesat karena hanya memenggal sedikit-sedikit ayat Quran tanpa mau mempelajari isi dan memahami relevansinya.

(Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran diantara mereka , dan tidak pula mereka bersedih hati. QS AlBaqarah 2:62).

Sangat mungkin konflik kebencian antar umat beragama ini tidak hanya dalam kubu Islam, bisa jadi Nasrani, Yahudi, Budha dan Hindu pun memiliki permasalahan umat yang sama. Tetapi mari kembali pada fitrahnya, bahwa hidup diisi dengan mencari jalan-jalan menuju kebenaran-NYA yang relevan dengan keadaan saat ini yaitu konsisten melakukan hal terbaik dalam hidup agar dapat menemukan frekuensi yang sesuai dengan-NYA jika kita kembali pada-NYA kelak.

Imajinasi

July 2nd, 2008 by yanux

Imajinasi adalah kekuatan menghasilkan ide atau gambaran atau citra diri. Hampir semua orang (yang sudah mampu berpikir) dipastikan pernah berimajinasi akan satu hal, bisa mengenai cita-cita atau sesuatu yang diimpikan.

Imajinasi atau fantasi memiliki korelasi linier dengan kreativitas. Dengan kata lain orang yang suka berimajinasi biasanya orang yang kreatif atau berpotensi menjadi kreatif. Misalnya bila kita mendengar kata kreativitas seringkali yang kerap muncul dalam benak kita adalah pelukis, penulis dan musisi. Namun tidak semua buah kreatif itu bagus karena hasil dari imajinasi ada yang produktif dan ada yang kontraproduktif. Sifatnya bisa konstruktif atau destruktif.

Contoh imajinasi yang menelurkan kreativitas yang produktif dan konstruktif misalnya cerpen, novel dan film. Bagi pencinta buku, cerpen dan novel dapat menularkan nuansa tertentu usai membacanya. Begitupun dengan film, acapkali kita akan merasakan sensasi yang berbeda setelah pertunjukan selesai. Dikatakan produktif karena hasil mengkhayal penulis ini mampu memberikan antusiasme positif bagi orang lain. Didalam film dan novel, orang akan mendengarkan dan seolah-olah menjadi saksi didalam alur cerita tsb. Juga ada kata-kata bijak dan hal positif untuk diambil hikmahnya. Banyak yang terinspirasi atau bahkan menjadi wahana pengembangan fantasi tersendiri setelah menonton film atau membaca novel. Padahal baik cerpen, novel, komik ataupun film adalah karya fiksi dari hasil imajinasi sang penulis.

Mengarang adalah bentuk imajinasi yang dituangkan bisa dalam bentuk tulisan atau sekedar diceritakan kepada orang lain. Pelawak juga produktif karena mampu mengarang cerita yang menghibur. Tapi dampak dari mengarang ini bisa dalam bentuk yang kontraproduktif.

Mengkhayal suatu cerita yang kemudian diceritakan kepada orang lain dengan percaya diri seakan-akan buah dari suatu peristiwa nyata merupakan kebohongan. Cerita ini jadi destruktif atau merugikan karena menciptakan karakter buruk bagi sang pencerita. Memang mengarang cerita bohong adalah kreatif, akan tapi bersifat merusak. Sama halnya dengan pembual.

Dalam cerpen AA Navis (Robohnya Surau Kami), seorang pembual yang kerjanya setiap hari membual dari satu tempat ketempat lain dapat membuat seorang penjaga masjid yang dicintai, bunuh diri setelah mendengar cerita sang pembual. Keasyikan membual bisa menjadi kebiasaan yang mungkin sangat merugikan diri sendiri dan orang lain.

Kebiasaan buruk harus segera disadari dan berusaha kembali kejalur yang benar agar tidak terlanjur mengakar dan membentuk watak. Jika saja imajinasi yang tercetus kemudian dituangkan dalam bentuk tulisan seperti cerpen, maka kreativitas destruktif tsb akan berubah menjadi hal yang positif.

Karena bagaimanapun, kreativitas harus selalu ditingkatkan. Semakin banyak membaca (apapun: cerpen, novel, komik) dan menonton film (apapun: kartun, sciencefiction, drama), akan semakin mengembangkan daya imajinasi dan berfantasi maka semakin berpotensi kita menjadi produktif demi menuju maqam tertinggi dalam hidup.

PSK dan Korupsi

June 26th, 2008 by yanux

Sekedar menilik topik lama yang mungkin hingga kini masih ada yang memperdebatkan, keberadaan kaum Pekerja Seks Komersil (PSK). Sebagian besar sudah pasti menjatuhkan vonis tersangka kepada mereka. Padahal bak mencari asal muasal mana lebih dulu ayam dengan telur, kasus ini jelas tak jauh berbeda. Kontroversi kerap muncul jika forum diskusi dibuka, hal ini wajar karena masing-masing pihak memiliki sudut pandang sendiri dalam menilai cara kerja dan dampak dari kegiatan para PSK.

Kalau Surabaya punya Gang Dolly, Semarang dengan kawasan Sunan Kuning, Sarkem di Yogyakarta dan Bandung dengan Saritemnya, maka Jakarta dulu terkenal dengan Kramat tunggaknya. Tempat yang terkenal dengan transaksi malamnya, kini semakin banyak merebak. Lokalisasi menjadi arena perputaran uang yang sangat signifikan dan secara gamblang merupakan sumber nafkah potensial.

Istilah PSK mengalami penghalusan makna, artinya profesi dalam hal transaksi seksualitas yang memiliki harga tersendiri. Alasan utamanya adalah untuk mencari makan. Walaupun tidak sedikit yang mempertahankan gaya hidupnya dengan tambahan pendapatan dari profesi ini. Biar bagaimanapun fenoma ini memunculkan reaksi keras dari para ibu-ibu yang merasa rumah tangganya terganggu karena ulah jual beli seks ini. Padahal perlu diingat, para pelaku penjual jasa seks ini membuka bisnisnya karena terdapat permintaan dipasaran. Sama halnya dengan prinsip ekonomi, dimana kebutuhan masyarakat akan menciptakan peluang baik bagi dunia perdagangan baik barang ataupun jasa. Kemudian inovasi bervariasi guna memberikan pelayanan terbaik kepada para pelanggan.

Pengguna setia jasa dunia seks ini jangan disangka hanya dari golongan orang yang kesepian tanpa istri, kurang pendidikan dan bobrok moral. Mereka yang aktif datang ketempat remang-remang ini banyak dari kalangan berduit, rumah tangga yang baik-baik saja, pejabat negara (lihat saja contoh anggota DPR, Al-amin Nasution), kaum intelektual dan tidak jarang yang terlihat bernuansa religi juga mencicipinya.

Makanya tidak adil jika kita hanya menganggap pelacur sebagai biang aib, padahal penjaja seks ini ada karena pembeli mencari. Transaksi pun dilakukan karena kesepakatan. Layaknya jual beli yang sah, antara sipenjual jasa dan sipembeli sama-sama mendapat untung. Dan mereka tidak merugikan orang lain, lepas apakah akibat sipembeli kemudian membawa malapateka kerumah karena penyakit atau lebih menyukai sensasi diluar rumahnya. Karena kadang menjadi dilema bagi pelacur seperti misalnya, pemakaian kondom yang disosialisasikan. Ada banyak pelanggan yang lebih suka tidak menggunakan kondom, dari pada tidak laku dan kalah bersaing, si PSK menerima saja permintaan konsumen tsb. Akibatnya penyakit dapat ditularkan dari lokalisasi dan dibawa pulang oleh sipembeli, padahal ini bukan salah sipenjual.

Memang pekerjaan ini adalah jenis yang terburuk karena dimasyarakat kita ini merupakan praktek perzinahan. Tetapi alangkah bijaknya jika melihat dari sudut tertentu, misalnya profesi ini menyelamatkan banyak keluarga untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-harinya dari desakan ekonomi yang kian menjepit mereka toh daripada mencuri. Alternatif pekerjaan ini dilakukan guna mencukupi kehidupan sehari-hari bagi mereka yang memilihnya dengan segala konsekwensi.

Melacurkan diri walau dimata masyarakat adalah hina, namun sejatinya profesi ini tidak mengambil hak apapun dari orang lain. Ini murni layaknya aktifitas pasar karena tidak mengurangi hak pembeli sedikitpun, bahkan tidak mengurangi timbangan seperti yang biasa dilakukan para pedagang dipasar pada umumnya yang dianggap pekerjaannya lebih mulia. Dan bisnis ini tidak merugikan siapapun karena dilakukan oleh pihak-pihak yang memang ingin mencemplungkan diri, mereka tidak hina seperi para koruptor.

Para pejabat dan petinggi korup yang berdasi dan intelek malah jauh lebih menjijikan dari para PSK karena mengambil hak dan merugikan banyak orang. Namun dengan selubung yang lebih rapih lagi (karena dianggap dipercaya dan jabatan halal sehingga tidak mudah terendus), semakin lama berkuasa maka semakin besarlah kerugian negara. Moral mereka jauh lebih buruk dari pada pencuri ayam yang hanya mengambil seekor ayam tetangga kemudian mati dikeroyok karena hanya untuk makan keluarga. Juga bahkan jauh lebih maksiat dari pelacuran.

Memberantas kawasan prostitusi sama susahnya dengan memberantas korupsi. Karena budaya korupsi sudah terlalu mengakar dan sulit diberantas. Kasus terbongkarnya konspirasi dan terima suap dikalangan kejaksaan yang seharusnya menjadi arena peradilan menjatuhkan pamor MA karena ternyata menjalar dan sudah mendarah daging hingga kepetinggi negara yang seharusnya terpercaya.

Bea cukai juga ikut terkuak padahal sudah menjadi rahasia umum praktek suap menyuap ini terjadi di Dirjen pajak, walaupun cuma shock terapy paling tidak kerja KPK sudah menunjukan hasil. Padahal bukan tidak mungkin praktek korupsi masih banyak bercokol didepartemen lain misalnya Setneg dan atau kepresidenan???!. Para koruptor akan memelas jika tertangkap dan meminta keringanan hukuman padahal mereka dan keluarganya hidup mulia dengan makan dan tidur yang serba enak dari hasil hak orang lain.

Jika saja pemimpin kita dapat dengan tegas memberantas korupsi ini dan mau menampari serta menciptakan budaya malu (agar pejabat korup segera mengundurkan diri seperi di korea selatan) maka berapa trilyun uang negara akan terselamatkan. Presiden itu seperti wartawan yang serba tahu segalanya tentang kondisi dan seluk beluk rakyatnya sebelum sampai ke khalayak umum. Oleh sebab itu bukan tidak mungkin jika presiden pun sebenarnya sudah tahu praktek-praktek dan zona aman para pelaku korupsi ini sebelum tim KPK menyelidiki. Tinggal kebijaksanaannya saja untuk menyelamatkan nasib bangsa. Toh, keppres masih sangat sakti di Indonesia.

Atau mungkin masih ada indikasi menyelamatkan diri sendiri? Atau pura-pura tidak tahu atau pura-pura tertipu. Lah wong kasus gampang saja seperti Blue energy-nya si Joko Suprapto bisa (red. pura-pura) tertipu.

Bicara soal bohong-berbohong sepertinya sudah menjadi salah satu budaya terburuk dinegara kita. Padahal satu kebohongan akan menciptakan puluhan kebohongan lain untuk menutupi kebohongan yang pertama. Lihat saja Jampidsus Kemas Yahya dan Jamdatun Untung Udji. Mereka seolah-olah bicara pada orang dungu agar dipercaya tanpa memberikan fakta dan bukti-bukti. Dengan percaya diri mereka mengatakan kebohongan dan berusaha menutupi kebohongan lain tatkala ada penyangkalan dari pihak luar.

Saat ini banyak orang-orang yang dengan percaya diri berbohong dan menganggap seolah kita semua adalah orang blo’on yang mau mempercayainya tanpa disertai fakta dan bukti. Bahkan ada yang sudah jelas-jelas tertangkap berbohong pun masih percaya diri mempertahankan kebohongannya, tinggal gantian kita yang waras untuk bersikap bijak menanggapinya.

Mitos atau Nyata ??

June 19th, 2008 by yanux

Segitiga bermuda atau The Bermuda Triangle or Devil’s triangel (segitiga setan) adalah istilah imajinasi, sebutan untuk kawasan dilautan sekitar Amerika Tengah yaitu pertautan dengan mengambil garis lurus antara kepulauan San Juan di Puerto Rico, Miami (Florida) dan pulau Bermuda. Daerah ini dianggap misteri karena dikaitkan dengan adanya keanehan dan peristiwa lenyapnya kapal-kapal dan pesawat yang diduga melintas disekitar perairan tsb.

Sebut saja catatan Columbus 1494 (rusaknya kompas dengan tiba-tiba dan terlihatnya kilatan cahaya aneh diangkasa), hilangnya kapal The Mary Celeste 1872, pesawat ‘penerbangan 19’ AL AS tahun 1945 dan masih banyak lagi peristiwa terkenal raibnya pelayaran ternama yang hingga kini belum terungkap. Setelah hampir 500 tahun tak terungkapnya tanda tanya besar ini, maka sekian tahun pula banyak dugaan-dugaan penyebab yang bermunculan guna menyingkap kebenaran. Seperti perkiraan adanya UFO; blue hole (goa didasar laut, perkiraan adanya pusaran kuat yang menyedot kebawah); lubang langit (seperti film star trek,sebagai pintu dimensi waktu dan ruang); gempa tektonik; gas methana didasar perairan akibat gesekan lempeng bumi (dihubungkan dengan adanya arus magnet tinggi yang dapat merusak alat navigasi); dan teori terakhir yaitu adanya bangunan piramid di bawah laut dengan lubang diujung yang hanya berjarak 100 m dari permukaan laut (dianggap sumber pusaran arus yang tersedot kebawah dan liarnya gelombang laut). Namun hingga kini usaha menebak tsb belum dapat dibenarkan karena belum ada fakta dan bukti nyata.

Ada hal yang terlewati dalam pencarian fakta yaitu semua peristiwa lenyapnya kapal tidak secara pasti menyebutkan lokasi kejadian, dan dilansir hingga kini bangkainya pun tak ditemukan yang berarti tidak ada bukti apakah benar-benar bertepatan diareal segitiga bermuda? Yang berarti penyebabnya pun belum jelas, apakah kerusakan mesin, human eror atau buruknya cuaca. Terkesan peristiwa tsb seperti hanya terlalu membesar-besarkan kemistisan dengan menambah julukan Devil’s Triangel.

Padahal fakta yang ada bahwa Bermuda adalah pulau yang berpenghuni!!! Tempat terpencil ini baik-baik saja. Kalau memang tempat yang angker dan aneh seharusnya kecil kemungkinan jika ada penduduk yang bersedia menempati pulau itu. Dan lagi dengan keeksotisannya tetap menarik bagi penikmat keindahan laut dan pemancing serta nelayan, memanfaatkan layaknya sebuah laut yang menjorok kepantai. (coba liat dipeta)

Semua pernyataan yang terlalu ditambah-tambahkan kedunia luar, hanya membuat rumor untuk membangun imej dan menciptakan keyakinan baru dimasyarakat dunia. Keyakinan kuat memunculkan ketakutan karena kepercayaan yang terlalu tinggi. Dan lucunya paranoid ini hanya berlaku untuk masyarakat dunia luar dan tidak bagi penduduk setempat.

Persepsi positif dapat timbul jika kita mampu mengelola rasa percaya dengan baik. Contohnya begini, mitos-mitos timbul biasanya hanya disuatu daerah tertentu dan tidak tersebar luas. Ini mungkin dikarenakan menularnya dengan cepat keyakinan yang salah akibat suatu cerita/kejadian yang kemudian hampir seluruh penduduk tidak tergugah untuk mengungkapnya secara ilmiah, sehingga terbentuk fenomena takut regional. Biasanya masyarakat akan menerima mentah-mentah dan cenderung menambah-nambahkan menjadi cerita yang luar biasa anehnya.

Kita coba ambil samlpe diIndonesia, Pocong dan kuntilanak merupakan rating tertinggi sebagai ikon yang ditakuti masyarakat kita (yang hingga kini tidak ada bukti yang secara umum dijadikan fakta secara ilmiah). Leak (hantu kepala dengan lidah menjulur) nomor satu dan hanya ada di Bali. Belum lagi keganjilan mitos nyi roro kidul (pantai parang tritis) yang hampir sama dengan kemistisan segitiga bermuda. Sedangkan Perancis dan Nigeria terkenal dengan legenda zombie yaitu mayat hidup yang dikendalikan voodoo. Begitu juga di rumania terdapat tokoh fiksi yang disebut vampir.

Mitologi kosmis kengerian ini seolah-olah hanya untuk warga lokal. Tidak ada cerita hantu-hantu atau lakon fiktif itu go internasional. Ada fakta yang mengelitik baru-baru ini. Ki gendeng pamungkas coba jajal kemampuan santetnya terhadap George Bush pada saat acara KTT di Bogor. Ternyata sama sekali tidak ada tanda-tanda reaksi dari jampi-jampi sang dukun (kalo memang sudah ampuh semestinya dari dulu zaman Belanda prajurit tidak perlu repot-repot dengan senjatanya). padahal mugkin untuk santet dan pelet berlaku untuk kalangan kita sendiri. Ini disebabkan karena terlalu yakin akan adanya praktek magis sehingga kita sendiri yang dikejar-kejar ketakutan.

Hingga saat ini saya belum pernah lihat yang namanya hantu. Jika kita dalam keadaan takut dan tidak segera mengatasinya dengan baik, otomatis ilusi gambaran kengerian dapat muncul tergantung dari masing-masing individu. Semacam ilustrasi dari pikiran kita sendiri. Itulah fungsi pentingnya pengendalian keyakinan. Sugesti diri sendiri dapat mewujudkan hal positif dan itu efektif!

Bisa jadi semua mitos misteri dan udara magis hanyalah omong kosong belaka, selama tidak terbukti secara ilmiah. Lagipula Alquran tidak pernah mengajarkan akan takut dan mengajak manusia untuk selalu berpikir serta menggunakan akalnya (Quran 14:52, 38:29, 74:54-56).

Yang Kubutuhkan Adalah

June 18th, 2008 by yanux

Yang aku butuhkan dalam hidup adalah hal-hal yang sederhana. Jika ia berupa harta-benda, aku butuh secukupnya saja. Asal cukup menjelaskan kepadaku betapa sedikit sebenarnya kebutuhanku sehingga jika kelebihan sedang menjadi milikku, itu pasti bukan karena kebutuhanku, melainkan karena kerakusanku.

Jika ia berupa ilmu pengetahuan, cukuplah ilmu yang mengajariku tentang kebodohan. Bahwa apapun yang kupelajari, pasti cuma untuk menegaskan kebodohanku sendiri. Bahwa jika semua isi kepalaku telah kubuka dan kutadahkan, ia tak akan sanggup menampung seluruh pengetahuan semesta raya. Jangankan berbangga diri mentang-mentang berilmu, merasa berilmu pun telah merupakan bentuk penegasan diri tentang kebodohanku.

Jika aku punya sahabat, cukuplah aku puas dengan orang-orang sederhana. Sepanjang orang itu sanggup mengilhamiku agar tidak ragu untuk tidur jika mengantuk, makan jika lapar, dan tertawa jika geli. Cukuplah jika sahabatku mengajariku untuk berani menjadi manusia yang wajar dan semestinya.

Jika aku berguru, aku tak meminta guru yang mengajariku punya kemampuan terbang dan menghilang. Cukuplah bagiku jika sang guru mau membimbingku untuk belajar menyingkirkan batu di jalan, rela pada keberuntungan orang lain, sabar atas kemalangan diri sendiri, senang melihat tetangga punya barang baru, mencintai anak-anak, menyayangi hewan…. Dari guruku, aku tidak mengharap pelajaran apapun selain pelajaran merendahkan diri dan merendahkan hati karena penyakit terbesarku saat ini adalah perasaan bahwa aku ini ada, penting dan besar. Dengan kebesaranku itulah, orang lain sering terlihat kecil. Karena kepentinganku itulah, orang lain jadi terasa remeh. Karena keberadaaku itulah, orang lain jadi seperti tidak ada. Jika aku tidak dibesarkan dan dipentingkan, susahlah hatiku.

Jika aku sedang kelihatan merendah, sesungguhnya karena aku sedang merasa lebih tinggi. Jika aku sedang mengecil, sesungguhnya karena aku tengah merasa besar. Oleh karena itu, aku pun dapat khusyuk berdoa sambil memandang hina orang lain yang tingkat kekhusyukkannya tidak sama. Jadi, perendahan dan peninggianku ini sesungguhnya tak lebih dari alat kesombonganku semata.

Jika ada seseorang yang memiliki kualitas kerendahan hati dalam arti yang sebenarnya, kepada merekalah aku datang berguru.

(Prie GS)

Macet

June 16th, 2008 by yanux

Meluangkan beberapa jam untuk terpaksa terlibat dalam kemacetan sudah menjadi agenda harian bagi warga jakarta dalam perhitungannya mengejar deadline ke suatu tempat. Meskipun pemerintah telah berusaha,tetap saja macet tidak berkurang.

Pembangunan fly over dan under pass, aturan 3 in 1 dan lajur khusus pengendara motor serta proyek busway belum juga mengatasi masalah macet. Malah terlihat menjadi masalah baru dengan bertambahnya titik-titik wilayah dan deret panjang kemacetan. Belum lagi imbas dari meningkatnya harga BBM dan adanya bus tranjakarta (TJ) yang membuat parah para pengusaha dan supir angkutan umum. Tingginya harga BBM dan kemacetan membuat pendapatan para supir menjadi tidak seimbang dengan pengeluaran. Mereka tidak mampu bersaing dengan fasilitas seperti TJ dan ditambah lagi maraknya penjualan sepeda motor,semakin membuat para penumpang lebih memilih menggunakan kendaraan pribadinya. Macet dan menurunnya daya beli masyarakat membuat berkurangnya jumlah penumpang karena pengurangan jumlah rit perharinya, otomatis penghasilan para supir jadi jauh berkurang. Maka bertambahlah faktor penyebab meningkatnya angka kemiskinan.

Keberadaan TJ adalah langkah awal peningkatan sarana angkutan dijakarta, walaupun dengan armada terbatas paling tidak kita punya public transport yang ga malu-maluin. Pada masa bang Yos, TJ ditujukan mengatasi masalah macet dengan maksud agar warga jakarta mau beralih menggunakannya dan mengurangi penggunaan kendaraan pribadi. Tetapi pengelolahannya terlihat lambat dan kurang memperhitungkan banyaknya warga jakarta yang harus diangkut. Kurangnya dana untuk menambah armada dan koridor menjadi permasalahan utama TJ. Pembangunan penambahan koridor VIII, IX dan X yang tak kunjung selesai menjadi penyebab kemacetan karena penyempitan ruas jalan dan tetap banyaknya jumlah kendaraan pribadi.

Sumber dari koran kompas mengatakan 80 persen jalan umum dipenuhi kendaraan pribadi yang membawa hanya 20 persen populasi. Melihat fakta ini, perlu evaluasi mencari penyebab dan solusinya.

Macet disini dapat diartikan sebagai antrian kendaraan disuatu jalan untuk dilaluinya menuju ke suatu tempat tujuan. Macet diklasifikasikan menjadi 3 yaitu padat lancar, padat merayap, padat benar-benar padat nggak bergerak. Klasifikasi terakhir biasanya untuk kasus tertentu seperti meluapnya banjir kanal ditol Prof.Sedyatmo (terlihat seperti mobil-mobil dipaksa numpang parkir didalam tol selama berjam-jam), adanya kebakaran dan aksi demo (wadah aspirasi atau menambah keruwetan?). Jika kita mau merunut jalan yang dalam kondisi macet, mungkin kita bisa mendapatkan penyebabnya. Kita mulai saja. Pertama kita dapati hasil merunut jalan, ternyata macet terjadi karena jalan yang parah, bolong dan nggak karuan rusaknya. Kalau tidak hati-hati, kecelakaan bisa jadi makanan sehari-hari. Demi kehati-hatian dan kenyamanan serta menghindari resiko rusaknya kendaraan maka pengemudi akan mengurangi kecepatannya. Maka jadilah antrian panjang dibelakang menunggu gilirannya melalui jalan yang rusak tadi perlahan-lahan.

Ada lagi hasil runutan ternyata karena bottleneck atau penyempitan ruas jalan akibat adanya proyek busway. Padahal aktif juga belum, tetapi sudah mengurangi jatah lalulalang kendaraan karena pengerjaannya yang setengah hati. Belum lagi diruas yang sempit itu atau dibeberapa tempat, angkutan umum seenaknya naik dan turunkan penumpang (budaya ketidak dispilinan antara supir dan penumpang sulit diubah, seharusnya ini menjadi tanggungjawab bersama). Ulah bus dan angkot ini juga menyumbang kemacetan di ibukota.

Yang lebih menarik lagi jalan tol. Jalan (yang seharusnya) bebas hambatan ini terlihat macet yang didominasi mobil pribadi di jam rawan macet (pagi mulai jam 7-9 dan sore jam 5-8 malam). Tol juga jadi alternatif favorit menghindari aturan 3 in 1 (atau jangan2, ini aturan yang nggak cerdas dan sengaja menguntungkan jasa marga..yah mengingat ada juga pihak jasa marga yang menjadi wakil di DPR?!!).

Pada jam-jam rawan macet jalan tol dan non tol sama-sama mengalami kemacetan dengan tingkat kecepatan kendaraan dan kepanjangan deret macet yang hanya sedikit berbeda. Melihat tol yang seharusnya menjadi solusi, ternyata tidak juga membuahkan hasil.

Perlu disadari penyebab utama macet adalah banyaknya jumlah kendaraan yang ada diibukota ini dengan efektifitas daya angkut populasi yang rendah. Coba saja survei keperusahaan penjualan mobil dan motor baik baru ataupun bekas, setiap tahunnya akan kita dapati jumlah yang selalu meningkat. Ini berarti peredaran mobil dan motor dijakarta semakin meningkat tiap tahunnya, padahal tidak sebanding dengan prasarana penambah dan pelebaran ruas jalan yang dilakukan pemerintah (karena memang sudah sedikit lahan yang harus dilebarkan). Semakin bertambah dan semakin sumpeklah jakarta dengan kendaraan2 pribadi (Polusi pun tinggi). Kemudahan memiliki kendaraan menjadi motivasi bagi para pengguna kendaraan pribadi. Contohnya kemudahan cicilan, dan mobil second (atau mungkin 3rd or 4th) yang dengan 40 juta saja seseorang sudah dapat memiliki mobil.

Berikut ini adalah ide Cak Roeslan, memang bukan orisinil dari saya tapi sayang jika harus saya telan sendiri (toh menulis kan bukan berarti harus selalu ide orisinil, tetapi sekedar melatih mengembangkan kreativitas dengan cara dan gaya sendiri).

Jika solusinya membatasi quota pertahun penjualan mobil dan motor maka dampaknya akan membuat mati pelan-pelan industri otomotif di Indonesia. Padahal industri ini sangat besar kotribusinya terhadap perekonomian kita. Alternatif lain yaitu melibatkan pemerintah sebagai kontrol pusat. Sebelumnya mari kita kembali melihat masalah lambatnya kelanjutan proyek busway. Sejak tahun 2005, identitas kelembagaan TJ dirubah menjadi PT. Jakarta Transportindo oleh bang Yos supaya Badan Pengelola (BP) TJ lebih lincah dalam pengoperasian busway dan lebih mudah dalam pengelolaan keuangan dan memaksimalkan kinerjanya. Meski sudah menjadi PT, pengoperasiannya tetap disubsidi. Misalnya, setelah dihitung ternyata tiketnya mahal, subsidi tetap dikucurkan agar harga tiket terjangkau masyarakat. Atau subsidi digunakan untuk pengadaan armada tambahan. Karena kita sedang berada dalam krisis keuangan maka tinggal menunggu apakah pemerintah menjadikan transportasi dan perbaikan infrastruktur sebagai prioritas utama dalam anggaran belanja dan subsidi pemerintah?

Seharusnya pemerintah memiliki suatu sistem yang praktis dan jelas dalam hal pengadaan anggaran khusus untuk revitalisasi infrastruktur dan transportasi umum. Selama ini subsidi tergantung dari APBN yang birokrasinya panjang dan lama. Misalnya begini, proposal yang diajukan untuk perbaikan jalan X dengan luas Y meter berada dimeja Dewan I diminggu pertama. Kemudian berada di Dewan II diminggu ke-2, selanjutnya dan selanjutnya sampai disetujuilah proposal tersebut dengan dana M sesuai dg proposal tsb setelah 1 bulan dari pertama proposal diajukan. Setibanya dilapangan ternyata kerusakan jalan bertambah lebar menjadi Y+Z meter. Dana M yang diterima terpaksa digunakan untuk memperbaiki jalan yang sudah bertambah rusaknya itu, dengan perhitungan yang meleset, alhasil perbaikan kualitas jalan tidak maksimal.

Sekarang kita berandai-andai. Seharusnya pemerintah berani menaikkan pajak kendaraan baik mobil atau motor (walau mengundang reaksi tapi cuek aja/ juga dimaksudkan untuk mengundang efek jera) asal dengan komitmen terhadap kopensasi yang bertanggung jawab yaitu biaya pajak digunakan wabil khusus untuk pembangunan dan kelancaran infrastruktur dan angkutan umum tanpa diganggu gugat untuk kepentingan lain yang ditampung oleh dirjen pajak dan tidak disetorkan ke kas negara. Sehingga jika ada proposal yang masuk maka dana sudah tersedia dan proses pencairan dana tidak memakan banyak waktu dan dapat langsung digunakan dari dana yang didapat dari hasil pajak kendaraan. Sistem ini semacam shortcut untuk mempercepat kucuran subsidi. Pendapatan dari hasil pajak kendaraan ini juga dapat digunakan untuk realisasi penambahan armada dan koridor juga untuk subisidi tarif agar mudah terjangkau warga. Sehingga jika system ini sudah berjalan maka public transport lainnya sejenis busway akan dengan mudah terrealisasi. Dengan pajak kendaraan yang tinggi (supaya kendaraan pribadi hanya dimiliki oleh orang yang benar2 mampu membayar pajak) dan lancarnya prasarana angkutan umum dan jalan maka warga akan termotivasi untuk meninggalkan kendaraan pribadinya.

Bicara mengenai system pajak kita yang salah, mari kita coba bercermin pada Negara tetangga. Pajak motor di Australia itu lebih tinggi dari pada pajak mobil. Sehingga jarang orang yang memiliki motor, kalau toh ada warga pemilik motor pastilah dia orang yang sangat mapan. Di negara kita, orang dengan mudah membeli motor karena tidak ada tuntutan pajak yang tinggi. Tetapi negara tetangga kita itu sudah barang tentu sangat jauh berbeda kondisi angkutan umumnya dengan kita. Lihat saja Singapura yang kotanya jauh lebih sempit dari Jakarta dengan pajak yang tinggi dan system transportasi dan infrastruktur yang mendukung, warga lebih suka menggunakan fasilitas umum ketimbang mobil pribadinya. Di Indonesia semua tinggal tergantung kepada pemerintah apakah berani men-deregulasi terkait masalah perpajakan dan system ini? Toh jika infrastruktur berjalan lancar maka otomatis perekonomian dan sektor pariwisata juga akan menunjukan efek positifnya, apalagi julukan istilah ‘macet’ mungkin akan langka kita temukan J

Yah..memang sangat kecil kemungkinan jika ide ini dapat sampai pada yang berwenang, tapi paling tidak isi kepala ini sudah dituangkan dan akan tersenyum jika saya membacanya nanti.

Islam dan Buah Reformasi

June 13th, 2008 by yanux

Menurut bahasa, kata salafiah berasal dari kata salaf yang artinya orang-orang terdahulu dalam ilmu, iman, kebaikan dan keutamaan. Pada saat ini sebutan salafiyah adalah untuk umat islam yang mengikuti ajaran Muhammad sesuai dengan syariat yang tertuang pada Quran dan hadist, sedangkan yang menyimpang dari Quran dan hadist disebut bid’ah. Penafsiran akan Quran dan hadis antar ulama pun dari jaman wafatnya sang rasul hingga saat ini masih menjadi perdebatan guna mencari titik temu menuju jalan kebenaran-Nya. Relativitas pemahaman dan perkembangan zaman yang merupakan rahmat-Nya adalah pemicu perbedaan hingga saat ini. Namun tetap saja penggodokan ayat2 suci tsb harus selalu menjadi agenda para pemikir agar manusia kembali kepada khitohnya.

Seorang ustad mengatakan bahwa didunia ini ada 73 aliran islam, dan hanya satu yang sesuai dengan syariat Nabi Muhammad maka selebihnya yang 73 itu adalah bid’ah. Untung saja sang ustad tidak melanjutkan dengan kata2 yang menimbulkan SARA. Artinya begini, karena didalam islam sendiri pun banyak terdapat aliran dan kebetulan sang ustad mendeklarasikan bahwa dirinya seorang salafi adalah wajar jika beliau kemudian melajutkan dengan pemikiran2 yang sesuai dengan ajaran yang dipahaminya. Karena seperti kita ketahui, saat ini ormas umat islam pun sedang sibuk mengoreksi yang terbenar dari aliran yang dianutnya. Lihat saja, FPI (Front Pembela Islam) dan laskar islam berseteru dengan AKKBB (Aliansi Kebangsaan untuk Kebesan Beragama dan Berkeyakinan) padahal mereka sama2 mengaku muslim malah saling tuding dan merasa paling benar. Kemudian disebut2 NU dan Muhammadiyah ikut bertanggung jawab akan kerusuhan itu.

Memang benar ini adalah era reformasi dimana diartikan sama dengan kebebasan berekspresi dan berpendapat, tetapi kok konteksnya sepertinya malah melenceng dari esensinya. Penyebabnya adalah perdebatan mengenai aliran Ahmadiyah, padahal sebelumnya ada aliran2 yang juga diperdebatkan yang mirip2 seperti ini, contohnya Lia Aminuddin yang juga mengaku sebagai nabi begitu juga dengan Mussadeq. Padahal kalo kita mau efektif dan efisien dalam menangani krisis bangsa, ada baiknya bila kita memikirkan hal yang jauh lebih produktif dari hanya sekedar mengganggu keyakinan umat lain. Toh jika kita mengaku negara hukum, maka sang pendemo dan pelaku rusuh seharusnya mengetahui aturan hukum di Indonesia karena semuanya sudah jelas tercantum didalam undang-undang negara kita. Atau pikiran positifnya adalah anggap saja kerusuhan monas adalah buah dari suatu reformasi.

Riwayat Abidzar Alghifari

May 28th, 2008 by yanux

Selama ini saya belum pernah mendengarkan dengan seksama cerita mengenai kisah2 nabi dan sahabatnya. Tadi malam saya begitu antusias untuk mendengarkan, karena ternyata hikmahnya begitu besar. Abidzar Alghifari adalah salah satu umat dizaman nabi Muhammad SAW. Pada literatur lain saya mendapati namanya dengan sebutan Abu Umamah. Menjadi topik utama karena kisah-kisah beliau menunjukan banyak hikmah dibalik kesederhanaan.

Pada suatu siang di bulan suci Ramadhan, datanglah Abidzar menemui Rasulullah. Abidzar berkata : ”Sungguh cilaka ya Rasulullah, diriku baru aje ‘ML’ dengan istri. Apa yang harus diriku lakukan ya Rasul?”. Berkata Rasulullah : “Emang loe ga puasa? Apa loe lupa kalau ini bulan Ramadhan? Apa loe ga sengaje?”. Abidzar : “ Ya iyalah puasa Rasul, diriku juga ingat kalau ini Ramadhan dan emang gw sengaje ngelakuin, gw udah ga kuat”. Rasulullah : “ Kalau gitu loe harus puasa dua bulan penuh buat bayar kesalahan loe”. Abidzar menjawab : “Waduh, masa’ dua bulan ya Rasul. Satu bulan aje gw udah ga tahan, apalagi disuruh tahan sampai dua bulan, gw pasti ga kuat deh”. Rasulullah : “ Oke deh, kalau gitu loe bebasin satu budak cewek!”. Jawab Abidzar : “Aduh Rasul, boro-boro bebasin budak, punya aje kagak”. Rasulullah : “ kalo gitu, loe kasih makan orang miskin yang ada didesa loe”. Menjawab Abidzar : “Jangan becanda Rasul, Gw ini yang paling miskin didesa, hari ini bisa makan aje udah sukur, gimane mau kasih makan orang lain.” Kemudian Rasul menjawab : “Ya udah gini aje deh. Ini lo gw kasih kurma sekeranjang, sekarang loe pulang n makan gih bareng keluarga loe”. Lalu pulanglah Abidzar kerumahnya.

Dalam riwayat ini tersirat betapa segala ritual hukum dapat disesuaikan dengan keadaan. Dibalik ritual selalu ada hikmah, dimana pun dan apapun bentuk ritual selalu ada hikmah. Tetapi hikmah tidak mengenal ritual. Kalau mengikuti ritual aturan, seharusnya Abidzar sudah dihukum dengan berpuasa dua bulan atau membebaskan budak atau memberi makan orang miskin untuk menebus kesalahnnya. Tetapi dengan kebijaksanaan Rasul tanpa mengikuti ritual-ritual tsb tetap ada hikmahnya Sehingga beliau hanya menyuruh memakan kurma yang diberikan. Hikmahnya adalah timbulnya perasaan mengaku bersalah (karena ‘ML’ diwaktu puasa Ramadhan) dari Abidzar, bagi Rasul sudah cukup. Sulit untuk mengakui kesalahan. Dan adalah hikmah yang luar biasa jika seseorang berani mengakui kesalahannya. Hikmah dapat diambil dari segala macam keadaan. Apapun bentuknya, selalu ada hikmah. Semuanya kembali kepada kemampuan masing-masing pribadi untuk dapat menangkap hikmah.

Berikut ini masih dari cerita Abidzar. Ketika memasuki masjid untuk sholat subuh, beliau melihat Abidzar berada didalam masjid. Pada waktu hendak meninggalkan masjid pun beliau masih melihat Abidzar duduk didalam masjid. Demikian juga pada waktu lohor, asar hingga subuh lagi pun beliau melihat Abidzar tidak pernah keluar dari masjid. Kemudian Rasul menghampirinya dan menegur. “Dzar, kalo gw perhatiin dari kemaren kok loe dimasjid terus.” Jawab Abidzar : “betul Rasul, emang ogut didalem masjid mulu”. Rasul : “pulang kerumah ga?”. Abidzar : “kagak. Ogut dimasjid aje”. Rasul : “Emang kenape Dzar?” Jawab Abidzar : “Ogut males pulang Rasul, takut ditagih-tagih. Utang gw banyak banget dimane-mane. Makanye gw di masjid aje, orang kan kagak berani nagih kemari. Jadi sungkan kali. Jadi gw pilih masjid aje buat tempat aman”. Rasul berkata : “Gini aje. Gw kasih loe berupa kalimat, amalin dengan baik tiap hari maka Tuhan akan beri loe kelonggaran”.

Kemudian Rasul membacakan kalimat yang didengarkan Abidzar dengan baik. Kalimatnya sbb :” Ya Allah, aku berlindung kepada-MU dari ragu-ragu dan takut, dari lemah dan rasa malas, dari ujub (pamer) dan pelit, dari perasaan dikejar hutang dan perasaan diibawah bayang2 orang lain.” (doa ini shohih karena tercantum dibanyak hadits seperti hadist riwayat Imam Bukhori, Imam Muslim, Imam Tirmidzi).

Abidzar Alghifari atau Abu Umamah mengamalkannya setiap hari sehingga kedukaan dan kesedihannya berkurang sedikit-demi sedikit, lama-kelama semakin berkurang hingga hilang sama sekali dan terbuka pikirannya jalan-jalan untuk mendapatkan usaha yang baik sehingga hutang dapat terbayar seluruhnya.

Sengaja saya menyebut doa dengan istilah kalimat. Karena doa sendiri mengalami penurunan makna dimasyarakat kita. Mari kita sedikit membedah dahulu makna dan esensi doa. Dari dulu saya diajarkan bahwa dengan berdoa maka keinginan kita dapat terwujud. Doa diartikan meminta segala apapun kepada Allah apa-apa yang menjadi keinginan dan harapan manusia. Doa dijadikan keyakinan bahwa apapun permintaan kita dapat dikabulkan, bahkan tanpa berusaha sekalipun karena dianggap Allah Maha Mendengar dan kebaikan-NYA yang Maha Mengabulkan maka keinginannya dapat terwujud. Apalagi ada istilah, doa orang yang terhimpit sangat makbul. Lalu dimana judul ‘usaha’. Bukankah Tuhan ciptakan akal dan pikiran agar manusia berpikir dan berusaha!

Rasul menyuruh mengamalkan kalimat (kata bercetak tebal), bukan sekedar membaca dan mengucapkan. karena jika mengamalkan setiap hari siang dan malam maka manusia akan memahami persoalannya dengan jernih sehingga timbul kemantapan hati untuk mencari jalan keluar dan usaha untuk menyelesaikan persoalannya. Seperti doa yang diamalkan Abidzar. Pertama-tama pahami isi kalimat doa dan amalkan. Sengaja pula saya membuat kalimat dari Rasul dengan bahasa Indonesia karena percuma saja kita lafalkan doa jika tidak memahami artinya. Doa-doa aslinya adalah berbahasa Arab karena kebetulan saja Rasul hidup dikalangan masyarakat Arab. Namun tanpa mengurangi arti, maka bahasa disesuaikan berdasarkan kaum yang akan mengamalkannya. Allah tidak bodoh, Allah dapat memahami segala macam bahasa. Namun doa adalah dari kita dan untuk kita. Kita pahami, amalkan dan selesaikan solusi, maka kebaikan akan kembali untuk kita bukan untuk Allah. Jadi esensi doa adalah bukan meminta, tetapi berdoa adalah memahami persoalan dengan jernih sehingga timbul kemantapan hati.

Setelah mendapat kalimat doa dari Rasul, kemudian Abidzar memahami isinya. Pada saat itu dia sedang mengalami banyak penyakit hati (pada doa disebutkan ada delapan penyakit hati) yaitu ragu-ragu, takut, lemah, rasa malas, ujub (jubni/pamer), pelit, perasaan dikejar hutang dan perasaan diibawah bayang2 orang lain. Ragu-ragu menimbulkan rasa malas sehingga menjadi lemah (lemah ekonomi). Misalnya “ragu-ragu nih mo kerjain yang mana dulu, ya udah ah males, ntar-ntar aja”. Perasaan males ini tidak akan mengatasi persoalan karena tidak ada usaha untuk membayar hutang malah menambah hutang. Akhirnya selalu ketakutan dan perasaan selalu dikejar hutang dan ditagih orang (contoh takut dibawah bayang2 orang lain) dan menjadi lemah (lemah iman). Abidzar membuang keraguan (dapat diatasi dengan mengurangi pilihan2), menumpas malas dan lemah dengan keteguhan mencari usaha untuk melunasi hutangnya sampai kemudian dia mampu membayar semua hutangnya. Maka hilanglah rasa ketakutan dan perasaan dikejar hutang dan dibawah bayangan orang lain. Kemudian rasa pamer dan pelit juga merupakan penyakit hati yang harus dibuang. Ujub adalah keinginan memamerkan apapun kekayaan kita, sedangkan riya adalah sifat pamer yang berurusan dengan ibadah / amalan. Penyakit-penyakit hati harus kita perangi agar kita mendapat kenyaman jiwa dan raga.

Terakhir ini masih mengenai Abidzar dan para sahabat Nabi. Seusai takjil dimalam Ramadhan berkumpullah Rasul dan sahabat-sahabat besarnya seperti Umar bin Khotob, Usman bin Affan, Ali bin Abu Tholib, Abdullah bin Umar (putranya Umar bin Khotob) dan para elite dimasjid.

Dengan keisengannya Abidzar bertanya kepada Rasul :”ya Rasul, model nyang kayak gimane sih ahli surga ‘ntu?” Rasul :”Loe kepengen tau siape ahli surga ‘ntu? Bentar-bentar ye… dikit lagi loe bakalan liat model orang yang bakalan jadi ahli surge.” Kemudian semua para elite melihat sekeliling siapa sahabat nabi yang tidak hadir, setelah melihat sekeliling mereka sadari tak satupun sahabat Nabi yang tak hadir. Dipikiran para elite, dari merekalah salah satu yang akan ditunjuk karena merasa cukup besar amalan dan pantaslah jika salah satu tokoh tsb mendapat pencantuman label sebagai ahli surga. Kemudian lewatlah seseorang tak dikenal. Lalu Rasul berkata:”Nah ‘ntu die yang barusan lewat yang bakalan jadi ahli surge”. Abidzar:”Maksud loe, ntu orang yang kagak kite kenal yang barusan lewat yang loe bilang ahli surga?” Jawab Muhammad :”Iye..”. Kontan semuanya bingung karena Mr.X tadi hanyalah orang biasa-biasa saja, dipikiran para sahabat, mengapa tidak salah satu dari mereka karena siapa tak kenal mereka para khalifah dan ahli top ibadah. Semua yang berkumpul tertegun.

Keesokan harinya Rasul mengatakan hal yang sama. “Nah, bentar lagi loe pada liat deh, model calon penghuni surga lewat didepan kite”.  Ternyata orang yang sama yang ditunjuk Rasul dimalam sebelumnya. Begitupun pada malam ketiga, Nabi masih menunjuk orang yang tidak kenal itu sebagai ahli surga.

Merasa penasaran keesokan harinya Abdullah bin Umar mengikuti sang Mr.X hingga kerumahnya. Kemudian dia mengetuk pintu rumah Mr.X itu. Pada saat pemilik rumah membukakan pintunya,yang ternyata si Mr.X tadi :”Ade ape ye?” Abdullah : “Nama gw Abdullah, gw pengen bertamu dirumah ini kalo loe ijinin”. Mr.X :”Ooo, kagak pape..silakan masuk aje”. Ketika dirumahnya merasa penasaran Abdullah mengamati gerak-gerik Mr.X itu dengan seksama. Abdullah dalam hati : “Ape yang istimewa ye? udah tiga hari gw disini, perasaan biasa-biasa aje nih orang. Sholatnye biase aje, bagusan gw kemane-mane! Amalannya biasa aje, gw peratiin kagak pernah ngaji. Abis sahur juga molor kayak kebanyakan orang. Gw jadi tambah penasaran. Batas bertamu udah abis kan cuma tiga hari, baiknye gw tanyain langsung aje ah ke ‘ntu orang”. Kemudian dihampirinya Mr.X :”Eh.. gw penasaran nih.” Mr.X:”Kenape Dul?” Abdullah:”Udah tiga kali Rasul bilang kalo loe ‘ntu model orang yang bakalan jadi ahli surga”. Mr.X:”Rasul bilang begitu?” Abdullah:”Iye bener!” Seketika Mr.X bersujud mengucap syukur dan terharu. Abdullah penasaran:”Emang ape sih amalan loe, kok Rasul bisa bilang begitu?” Mr.X:”Gw juga kagak tau, perasaan sih amalan gw ya begini ini. Kagak ada istimewanye!” Abdullah:”Ya udah deh kalo gitu gw pamit”. Setelah berjabatan tangan maka pulanglah Abdullah.

Keesokan harinya Abdullah kembali berkumpul dimasjid bersama Rasul dan sahabat-sahabatnya. Rasul berkata:”Dul kemane aje loe, udah tiga hari kagak keliatan?” Lalu Abdullah menjawab :”Gw penasaran ama orang yang loe tunjuk sebage ahli surga ‘ntu. Terus gw ikutin sampe rumahnye, terus gw nginep ampe tiga hari dah. Gw peratiin mulu. Tapi gw kagak liat amal ibadah yang istimewa dari ‘ntu orang!”kemudian Abdullah ceritakan apa-apa saja kegiatan orang tsb, kemudian Rasul berkata : “coba loe peratiin, pasti ada deh nyang istimewa!” Abdullah : “kagak ada! Biasa aje semuanye.” Rasul :”Coba loe peratiin lagi, ada deh nyang istimewa!” Abdullah menjawab dengan keyakinannya bahwa tak ada yang istimewa dari Mr.X, kemudian Nabi menjelaskan :”Ahli surga itu belum tentu dari amalan sholat ato ngajinye aje. Kalo loe peratiin bener-bener, kenape gw sebut dia ahli surga soale ‘ntu orang dari lahir kagak pernah punya niatan untuk nyakitin orang. Nah paham loe sekarang!” maka terjawablah sudah rasa penasaran Abdullah bin Umar. Pahamlah ia apa yang dikatakan rasul. Jika Rasul mengatakan demikian maka benarlah adanya. Seorang ahli surga tidak saja dilihat berdasarkan banyaknya amal ibadah yang dilakukannya tetapi Tuhan memiliki ketentuan sendiri bahwa seorang ahli surga parameternya dapat dilihat dari ketulusan hatinya, niatannya untuk menjaga hati sesamanya.

Dan semuanya adalah atas kehendak dan kuasa-NYA.