Pencerahan

March 12th, 2009 by yanux

Pada abad ke-18, istilah pencerahan atau illuminate / enlightenment pertama kali diperkenalkan oleh Immanuel Kant. Pada essaynya tertulis : “Answering the Question: What is Enlightenment?”. Definisi pencerahan menurut Kant dalam bahasa latin yaitu Sapere aude (dare to know). Dalam bahasa umum definisinya adalah ‘berani’ untuk mengemukakan penalaran yang baru, penalaran yang berbeda dari asumsi umum.

Penekanan pencerahan ada pada kata ‘berani’ yang wajib ditonjolkan untuk dapat mengungkapkan nalar – nalar (yang berbeda) pada orang lain. Karena kalau tidak berani untuk mengatakannya, maka pencerahan tersebut tidak akan berlari kemana-mana, hanya berhenti dikepala. Sehingga dapat dikatakan bahwa pencerahan adalah berani mengutarakan yang tidak sesuai dengan mainstream.

Nalar yang belum (atau tidak) matang biasanya ter-conserve pada satu dogmatis tanpa mencoba untuk berani menalarkan dogma tersebut atau disebut konservatif. Secara filosofis, konservatif berasal dari kata conserve (konservasi) dari suatu nilai, paham, dogma tertentu. Dalam hal ini maka pencerahan dapat juga diartikan untuk berani keluar dari nalar yang belum matang.

Meskipun illuminate sudah lama dikumandangkankan oleh para filsuf terdahulu, namun era ini baru dapat beredar bebas semenjak masa demokrasi berkiprah di Negara kita. Kebebasan dalam bentuk apapun, kebebasan subyektif maupun kebebasan obyektif. Kebebasan subyektif maksudnya kebebasan pada ranah internal pribadi atau dalam pikiran, misalnya kebebasan berimajinasi, kebebasan mengolah asa dan cita. Sedangkan kebebasan obyektif yaitu kebebasan yang ada didunia nyata, contohnya bebas untuk melakukan apapun seperti memukul, telanjang, berlari, bergerak dan semacamnya.

Namun kebebasan obyektif seseorang seringkali berbenturan dengan kebebasan obyektif orang lain. Misalnya si A merasa bebas untuk mengeruk Sumber daya di hutan Kalimantan, namun pada prakteknya si A akan berbenturan dengan suku Dayak yang juga merasa memiliki dan bebas memperlakukan hutan Kalimantan sebagai wilayah pemenuhan kebutuhan sehari-harinya. Atau masih banyak lagi contoh dimana kebebasan obyektif seringkali tidak dapat terpenuhi karena orang lain juga dapat memiliki kebebasan obyektif yang sama. Benturan antar rebutan akan pemenuhan masing-masing hak kebebasan obyektif ini, tak dipungkiri malah timbul gesekan yang akhirnya menjadi sebuah konflik.

Padahal di zaman reformasi ini, kebebasan obyektif menjadi salah satu pedoman dalam menjalankan roda demokrasi. Namun jika melihat side effect dari kebebasan obyektif (red-konflik) ini, maka lebih mungkin jika model kebebasan subyektif lebih kondusif. Atau lebih mungkin lagi jika memang ingin kebebasan obyektif yang dijalankan, namun tetap menyelipkan unsur tirani-demokrasi yang dianut Negara kita mengingat kebiasaan kita yang seringnya kebablasan dalam mengintepretasikan kebebasan demokrasi.

Bebas akan terus diperjuangkan, karena pada dasarnya manusia ingin hidup dengan bebas. Namun dalam menterjemahkan bebas ke dalam diri maka perlu paradigma (world view) yang menjadi patokan manusia agar dapat hidup damai dalam pencitraannya mewujudkan hakikat diri. Dalam hal ini skala preferensi harus menggunakan logika untuk menentukan keputusan yang akan diambil.

Dalam mengartikan hakikat hidup, biasanya akan berbeda pada tiap-tiap individu. Secara filsafat akan banyak aliran yang akan ditempuh untuk mendefinisikannya, dan pada akhirnya para pemikir akan sampai pada pencarian kebenaran dibalik dimensi hakikat manusia yaitu Sang Khalik. Walau kebenaran belum tentu dapat ditemukan titik temunya, dan meski tidak juga semua aliran filsafat mencari kebenaran akan hakikat sejati kebenaran ini. Namun pada perkembangan ketauhidan, terdapat dua macam ilmu dalam upaya mengimani ketauhidan akan Sang Pencipta. Pertama secara teologi yaitu bertauhid dengan cara mengimani wahyu yang diyakini bersumber dari-NYA. Dan yang kedua adalah secara filosofi dengan cara menalarkan ketauhidan. Bahwa Sang Akbar dapat dinalarkan. Dimana dalam nalar yang sehat terdapat Iman yang kuat. Karena menurut al-Farabi filsafat itu setara dengan wahyu, hanya saja wahyu zaman rasul, yang notabene rasul diyakini sebagian orang sudah tidak ada di abad ke-8, maka buah pikir para filsuf seperti ‘cogito ergo sum’ (saya berpikir maka saya ada)nya Rene Descartes merupakan sebuah wahyu masa kini untuk mengajak manusia memiliki pola berpikir nalar. Menalarkan keTuhanan.

Dalam suatu tulisan atau asumsi, wajar bila terjadi kesamaan dengan orang lain. Karena manusia biasanya belajar dari meniru. Kemudian wajar bila kemudian memiliki pemikiran yang sama. Namun dalam dunia akademis maka hal ini dapat dikatakan plagiat jika tidak mencantumkan nama sipenulis sebelumnya. Padahal logikanya, dunia yang sudah ribuan tahun ini eksis dihuni makhluk hidup, maka mungkin saja sesuatu yang di klaim sebagai karya pertama yang dipublikasi itu sudah ada sebelumnya. Tapi jika saja dunia akademis mau sepakat untuk tidak sepakat, mungkin saja logika ini dapat diterima, Wallahualam :)

Haji Mabrur

November 28th, 2008 by yanux

Haji adalah rukun Islam kelima setelah syahadat, shalat, zakat, dan puasa. Karena haji memerlukan persiapan dari segi moral dan materi dalam jumlah yang besar, maka pada pelaksanaannya ibadah ini hanya dapat dilakukan oleh orang-orang tertentu saja. Harapan bagi setiap jamaah haji sepulang dari perjalanan spiritual tsb adalah menjadi haji mabrur. Lalu apa sebenarnya haji mabrur itu?

Mabrur berasal dari bahasa Arab, dalam Alquran tertuang kata al birra (QS. 3:92) yang artinya dalam bahasa Ingggris adalah excellent. Dalam kosakata bahasa Indonesia untuk kata excellent, tidak ada padanannya. Kalau diartikan sebagai sempurna, tidak cocok, karena sempurna bahasa Inggrisnya adalah perfect. Kalau diartikan istimewa atau luar biasa juga tidak bisa, karena dalam bahasa Inggrisnya bisa special atau extraordinary. Jika melihat terjemahan Quran ke bahasa Indonesia, baik terjemahan DepAg ataupun karya TNI AD yang disambut MUI, arti kata al birra adalah sempurna, yang maknanya belum tepat dengan kata excellent.

Dalam sistematika penilaian, excellent merupakan puncak dari point tertinggi. Berikut ini urutan tingkatan nilai dari point terendah sampai tertinggi : worst, very bad, bad, not so good, not so bad, good, very good, excellent. Jika diaplikasikan pada konsep ibadah haji, maka makna excellent atau mabrur dapat dituangkan kedalam satu variable yaitu sikap, perwujudan akhlak yang excellent dalam keseharian seorang umat.

Mabrur atau excellent bukan makna yang tertuang pada cara-cara yang benar sebelum dan atau pada saat melakukan ibadah haji, namun esensinya adalah kebaikan yang excellent, sikap atau perilaku dalam menghadapi kehidupan social sehari-hari, sepulang dari perjalanan ke Mekkah.

Seorang haji di’cap’ sebagai haji mabrur apabila tercermin pada perilakunya sehari-hari seperti bersikap baik pada semua orang, meskipun pada orang yang memusuhinya. Tidak menyakiti hati orang lain, membuat dirinya bermanfaat untuk orang lain, meringankan beban orang lain baik dalam bentuk materi, maupun ilmu. Itulah sikap yang excellent, mampu memberikan warna hidup lebih cerah untuk orang lain. Semata-mata karena kesadaran tinggi akan ke- Esaan Allah. Bukan yang dengan kesibukannya beribadah kepada Allah tetapi mengabaikan keadaan sekitar, kelaparan disekeliling, dan kebodohan disekitar kita. Mabrur adalah keyakinan dan kesadaran tinggi akan hakikat manusia dan hakikat hidup sebagai ciptaan-NYA, khalifah di bumi.

Taubat

November 3rd, 2008 by yanux

Manusia yang memaknai hidupnya, akan mengisi perjalanan waktunya dengan tuntunan taubat untuk memudahkan ia menuju Allah. Taubat memiliki arti kembali. Pengertian kembali adalah bermula dari satu posisi, kemudian keluar dari posisi awal dan akhirnya akan menuju keposisi semula. Dalam hakikat, taubat adalah pemahaman hikmah bahwa hidup adalah proses kearah sumber dari segala sumber kehidupan yaitu Allah.

Dalam pemahaman harfiah dimana titik awal adalah Allah maka taubat dibagi menjadi dua bagian yaitu taubat Allah dan taubat manusia. Taubat yang pertama adalah kembalinya Allah memberikan rahmat dan anugerah berupa digerakkannya hati manusia untuk bertaubat, yang kedua setelah manusia merasa hatinya tergerak untuk mengingat-Nya dan tidak melakukan kesalahan-kesalahannya kemudian manusia memutuskan untuk tidak melakukannya kekeliruannya. Taubat kembalinya Allah menggiring hati manusia untuk kembali mencintai-Nya.

Ketika detik demi detik berjalan, tanpa sadar manusia terus dalam proses ketempat semula. Dalam etape menuju Sang Khalik, terdapat tingkatan keimanan yang disebut maqam. Dan tingkatan awal pada maqam adalah taubat.

Menurut Imam Ghazali, setiap maqam menuju Allah terdiri dari tiga unsur, yaitu pengetahuan, kondisi psikologis, dan aktivitas. Taubat pun melalui ketiga unsur ini.

Pengetahuan akan membawa manusia kedalam ranah introspeksi. Ketika aktivitas yang dilakukan dapat manjauhkan keimanan, manusia yang senantiasa menyadari dan melakukan evaluasi kalitas diri akan segera menghentikan aktivitas yang dapat mereduksi imannya. Pengetahuan menggiring kita untuk tetap sadar dan dapat berpikir nalar. Selanjutnya pengetahuan ini membentuk kondisi psikologis yang diinginkan. Contohnya, setelah manusia menyadari pelanggaran yang telah dilakukan, kemudian di hati akan mengeluarkan perasaan menyesal serta rasa perih dan terdorong untuk tidak melakukannya lagi dan segera mengarahkan hati dan pikiran kepada Allah. Setelah semuanya itu barulah kemudian akan tercermin gambaran hati manusia dari aktivitas yang dilakukannya sehari-hari.

Semoga hati kita senantiasa diselubungi taubat.

Perkawinan dan Riyadhah

October 10th, 2008 by yanux

Perkawinan adalah sebuah institusi dalam memasuki dunia rumah tangga. Makna perkawinan banyak diidentikkan dengan suatu langkah legal yang menghalalkan hubungan seksual antara lelaki dan perempuan. Istilah yang lazim mengambil judul salah satu lagu penyanyi Spice Girl yaitu “two become one”, yang diartikan sebagai penyatuan dua insan melalui proses yang sakral dalam satu ikatan perkawinan.

 

Konsep penyatuan lelaki dan perempuan yang mengikuti aturan alam ini, ada baiknya kita telusuri maknanya. Dimulai dari konsep keseimbangan di era paganisme. Pagan yang berarti masyarakat pedesaan.

 

Sebelum kelahiran Yesus, telah terbentuk masyarakat pedesaan yang memiliki kepercayaan dengan menyembah dewa-dewi atau biasa disebut kaum pagan. Kaum pagan percaya bahwa segala dimensi hidup dapat selaras dan harmonis jika setiap pasangan suatu konsep tidak terganggu. Misalnya, kaum pagan menyembah Sang Dewa yang berarti lelaki dan sudah pasti memiliki pasangannya yaitu Sang Dewi yang berarti perempuan. Kedua pasangan dewa ini memiliki kekuatan dan kedudukan yang sama. Keduanya saling melengkapi keberadaannya. Contohnya, dewa kesuburan kaum pagan adalah Amon, oleh dunia simbologi biasanya tergambar dalam bentuk kambing dengan tanduk yang menjulang gagah. Sedangkan Dewi kesuburan biasa disebut Isis, atau Dewi Sri, Dewi padi. Pasangan dewa-dewi ini seperti Yin dan Yang, saling bertaut, berikatan dan saling melindungi.

 

Namun pada perkembangannya, ketika Vatikan mengambil alih peranan dalam dunia kepercayaan Kristiani setelah penyebaran agama yang dilakukan Yesus, banyak dilakukan propaganda untuk melemahkan dan melumpuhkan eksistensi perempuan karena adanya unsur politik dan kekuasaan. Pada akhirnya ketika doktrin itu menyebar luas, keseimbangan itu menjadi rusak. Harmoni tidak lagi berjalan, karena perempuan sudah tidak lagi dianggap setara dengan lelaki. Dan keadaan ini terus berlanjut dan menyebar hingga memasuki zaman kenabian Muhammad SAW. Perempuan menjadi manusia kelas dua didunia, yang pertama tentu saja lelaki.

 

Lebih dari 1200 tahun setelah Nabi Muhammad wafat, ketimpangan antara perempuan dan lelaki masih dapat dirasakan. Dan ini membawa dampak yang besar dalam sebuah perkawinan. Dimana peran lelaki dan perempuan memiliki porsi sendiri-sendiri. Dan kebanyakan menganut paham bahwa lelaki adalah pemimpin sebuah rumah tangga.

 

Inilah paham yang menggangu keharmonisan. Paham yang tidak mensejajarkan posisi dua insan dalam satu atap. Hal ini dapat memampatkan kebebasan berpikir dan menghambat produktifitas dipihak lain (baca-istri). Bahkan dalam urusan hubungan seksual pun biasanya ada salah satu pihak yang cenderung berlebihan sehingga melupakan hal-hal yang lebih krusial dalam hidup.

 

Padahal menurut sejarahnya, persetubuhan adalah penyatuan dua ruh yang menjembatani lelaki dan perempuan menuju Tuhan. Konsep bercinta adalah dengan tujuan untuk menyatu dengan Sang Pencipta. Bertemu dengan wujudNYA.

 

Pada tingkat spiritual yang tinggi, mereka percaya dengan bercinta pada titik puncak dalam berhubungan seks, mereka mengalami kekosongan pikiran selama setengah detik yang memungkinkan manusia melihat Tuhan melintas sesaaat. Pada saat ini, bagi mereka yang sudah mencapai derajat spiritual yang tinggi, moment ini digunakan untuk semakin menyatu dengan-NYA sehingga mereka mampu melihat wajah-NYA. Pada tradisi Yunani dikenal dengan Hieros Gamos artinya pernikahan suci, dimana orgasme dianggap sebagai doa.

 

Persiapan yang dilakukan menjelang prosesi hubungan seksual adalah dengan sepenuhnya berserah diri dan memusatkan segala kesadaran pada keberadaan-NYA. Sehingga hubungan seksual dianggap sebagai puncak dari perjalanan spiritual manusia semasa hidup untuk dapat menatap-NYA sebelum benar-benar kita melebur dengan-NYA ketika kita kembali pada-NYA.

 

Hal yang dilakukan para pasangan selibat yang dengan tujuan untuk meningkatkan religius eksitensi dalam hidupnya. Hubungan seksual akan dilakukan dengan perhitungan dan niat yang ditujukan hanya karena Sang Pengasih. Mengisi hidup dengan produktifitas, dan berusaha mengenali diri dan menyatu kepada-NYA. Menurut Al Ghazali, kenalilah dahulu diri sendiri maka kemudian manusia akan mampu menegenal Tuhannya.

 

Penganut paham aliran perkawinan selibat ini melakukan latihan kerohanian atau biasa disebut riyadhah dengan cara mengendalikan nafsu dan berusaha membersihkan hati agar dapat memiliki hati yang bening sehingga mampu menangkap cahaya Allah dikedalaman relung jiwanya. Seperti teori cerminnya Imam Ghazali, bahwa hati manusia ibarat cermin, sedangkan petunjuk Allah ibarat nur / cahaya. Maka jika manusia benar-benar memiliki hati yang bersih, niscaya manusia dapat menerima cahaya Allah dan memantulkannnya kesekitar.

 

Semoga hati kita senantiasa memperoleh petunjuk-NYA.

Esensi Sejarah

October 7th, 2008 by yanux

Sejarah memiliki kedalaman makna yang tak terhingga bagi perkembangan pemikiran dan pemahaman akan apapun. Sejarah dapat tertuang dalam simbol, peninggalan-peninggalan berupa catatan, tradisi dan doktrin-doktrin melalui sebuah perkumpulan atau institusi baik resmi maupun tidak resmi. Kemampuan kita memahami masa lalu sangat menentukan kemampuan kita memahami masa kini. Jadi bagaimana kita membedakan kebenaran dari kepercayaan? Bagaimana kita menulis sejarah kita, personal atau kultural untuk menemukan jati diri kita? Bagaimana kita menembus tahun, abad dari penyimpangan sejarah untuk menemukan kebenaran hakiki?

 

Mengurai kebenaran sejarah adalah suatu hal yang wajib bagi berbagai dunia pengetahuan, namun akan lain halnya jika sejarah yang coba diungkapkan adalah mengenai kebenaran suatu agama. Hal ini masih menjadi polemik, karena kaum fundamentalis dan tekstualis menganggap tabu jika kebenaran yang terungkap jauh dari intepretasi yang selama ini sudah dijabarkan dan mereka yakini berdasarkan teks-teks pakem. Namun bagaimana jika kebenaran akan fakta lama bahkan ribuan tahun lamanya kemudian muncul seiring dengan teori-teori pendukung, dimana keberadaannya dapat menggoyahkan eksistensi keyakinan yang sudah lama kita jalani?

 

Di era keterbukaan dan kemudahan akses akan informasi, sangat besar kontribusinya dalam memuaskan dahaga kaum progresif dan religius refusenik untuk mencari kebenaran. Karena bagi mereka, mengeksplorasi keragu-raguan dapat merangsang kepercayaan diri dan menyingkirkan agama dari ruang publik bukan saja tidak realistis tetapi juga tidak produktif.

 

Hingga saat ini kedudukan agama dan ilmu pengetahuan masih dipisahkan oleh sekat, ibarat memisahkan air dengan minyak maka hal ini akan sulit dilakukan. Agama menuntun kita untuk percaya dulu, jika terjadi ragu-ragu dan mulai berpikir maka kita harus mencari alasan-alasan pembenaran keragu-raguan untuk dapat kembali percaya.

 

Agama berbeda prosesnya dengan pengetahuan. Pengetahuan diawali dari perkembangan filsafat yang didasari atas keragu-raguan, pertanyaan-pertanyaan, adanya masalah yang muncul, adanya fenomena yang belum pernah dibahas. Kemudian semuanya diproses dengan cara berpikir dan mencari jawaban. Jika jawabannya sudah mampu membuang keragu-raguan, baru menyatakan yakin akan jawaban kebenaran yang didapat. Hasil berpikir tersebut disebut pengetahuan.

 

Sikap apologetik kaum fundamentalis nampaknya tidak sesuai dengan cara berpikir kaum progresif. Sikap kaum puritan tsb bahkan dapat memunculkan sikap untolerir terhadap terkuaknya suatu kebenaran baru. Pada akhirnya mereka akan semakin mengagungkan agama mereka dan menganggap bahwa hanya agama merekalah yang paling benar. Nampaknya fenomena ini mengakar dalam pada sebagian besar umat Islam di Indonesia seperti contoh FPI yang ngotot mengganyang Ahmadiyah.

 

Hal ini menimbulkan stigma bahwa umat muslim dianggap belum dewasa. Coba saja kita sedikit belajar pada saat umat Kristiani ketika menanggapi terbitnya novel The Da Vinci Code karya Dan Brown. Meskipun tertuang dalam bentuk novel yang sudah pasti tidak perlu dianggap benar isinya, namun dalam novel tsb menguak fakta-fakta yang dapat mengguncangkan eksistensi gereja dan ajarannya. Akan tetapi hal ini bukan berarti kaum kristiani kemudian menghujat sang penulis dan melakukan somasi. Mereka mampu mentolerir dan berpikir kembali bahwa keyakinanlah yang terpenting. Terlepas apakah yang mereka yakini selama ini adalah salah jika dirunut fakta sejarahnya. Namun mereka tetap meyakini bahwa jika apa yang selama ini mereka yakini membuat mereka hidup lebih baik sebagai makhluk Tuhan, maka itulah yang mereka jalani.

 

Umat Kristen sudah mampu menerima kritik. Mereka dapat dengan tenang menjalani keyakinannya, meskipun banyak fakta yang menunjukkan bahwa Yesus bukanlah anak Tuhan. Namun bagi mereka Yesus adalah inspirasi umat manusia. Bahwa nilai-nilai kemanusiaan yang Yesus jalankan, dapat dijadikan panutan hidup manusia. Itu saja bukti yang sudah dibuktikan.

 

Bagaimana dengan Islam? Apakah Islam sudah siap jika Al-Quran dikritik? Atau apakah sudah benar fakta ke-empat mashab yang menjadi pedoman kaum salafi adalah yang terbaik? atau apakah gerakan sholat yang selama ini kita jalani sudah sesuai esensinya? Dan apakah bacaan-bacaan Quran yang kita coba baca dengan tartil itu sudah benar-benar kita pahami maknanya atau hanya sekedar mengejar pahala? Lalu bagaimana relevansinya antara syariat yang kita jalankan dengan pembentukan karakter mental kita? Berapa banyak dari sekian umat yang mampu membentuk generasi khalifah selanjutnya?

 

Padahal kritik datang karena kecintaan kita untuk mengoreksi yang telah ada. Kritik untuk mencari kebenaran hakiki yang relevan dengan zamannya. Meskipun pada akhirnya parameter kebenaran akan bermuara pada keyakinan diri sendiri.

Pulau Onrust dan Gelar Haji

October 7th, 2008 by yanux

Diantara beberapa pulau-pulau kecil yang ada dikepulauan seribu, mungkin sebagian besar sudah banyak yang mengenal satu pulau yang bernama pulau Onrust. Pulau seluas 12 hektar yang hingga kini masih terdapat puing-puing bekas bangsal dan sejenis tempat karantina. Namun masih saja terlihat mempesona dan menarik bagi para pecinta pantai dan eksotis pulau karena letaknya dilepas pantai utara teluk Jakarta. Di pulau ini masih terlihat bangunan-bangunan peninggalan penjajah Belanda seperti benteng dan pelabuhan kuno.Pulau Onrust merupakan pelabuhan VOC sebelum pindah ke pelabuhan Tanjung priok, Jakarta Utara. Pulau Onrust ini juga merupakan markas tentara penjajah Belanda sebelum masuk Jakarta dan mendudukinya. Di pulau inilah tentara Belanda melakukan aktivitas bongkar muat logistik perang.
Tahun 1920-an, Pulau Onrust juga menjadi asrama haji sebelum diberangkatkan ke Arab Saudi. Pada masa itu Indonesia masih dibawah kekuasaan Hindia Belanda. Pergerakan rakyat Indonesia dari tokoh panutan dan intelektual dianggap sebagai pemberontakan yang dapat merugikan pihak Belanda.Belanda memanfaatkan tradisi islam Indonesia yang menganut paham wajib pergi haji ke Arab Saudi. Belanda melakukan propaganda dengan alih-alih untuk membantu menunaikan Rukun Islam tersebut dengan membantu biaya akomodasi bagi para intelektual dengan satu syarat.
Pada waktu itu, transportasi yang digunakan adalah kapal laut yang dapat memakan waktu perjalanan bolak-balik hingga empat bulan lamanya, sedangkan lamanya proses haji di mekah memakan waktu satu bulan. Untuk itu perlu untuk membangun tempat karantina calon haji di Pulau Onrust sebelum kapal-kapal mereka diberangkatkan dari pulau ini. Para calon haji di Pulau Onrust diadaptasikan dengan udara laut sebelum menuju ke Arab Saudi

Setelah selesai menunaikan ibadah haji, pihak Belanda mengajukan syarata yaitu mereka harus menerima label bersertifikat, dengan gelar ‘Haji’. Hal ini merupakan kebanggaan karena tidaklah mudah pergi haji dan tidak sedikit jika harus mengeluarkan biaya sendiri. Gelar haji ini digunakan sebagai gelar panggilan dan menjadi penanda bahwa seseorang telah selesai menunaikan rukun Islam yang ke-5.

Namun dibalik labelisasi ini, sebenarnya Belanda memiliki maksud untuk menandai pemberontak yang telah dibiayainya ini. Belanda mengamati orang-orang yang berlabel haji ini, karena ketika mereka pergi haji dan mengetahui dunia luar, mereka mengalami perkembangan pemikiran yang menyebabkan mereka menjadi pemberontak.

Contoh tokoh-tokoh pergerakan yang mudah terdeteksi oleh Belanda misalnya Kyai Mojo dan K.H. Agus Salim. Mereka dibiayai dan diberangkatkan ke Mekah agar mudah terpantau keberadaannya. Karena tidak banyak yang sudah berhaji dan dimanapun mereka berada maka masyarakat tetap menjuluki dengan gelar ‘Haji’ ini, sehingga mudah bagi Belanda untuk mendeteksi lokasi sang pemberontak.

Sayangnya hingga kini, masyarakat kita masih banyak yang begitu bangganya dengan gelar ‘Haji’ ini, terlepas dari pengetahuan akan asal muasal gelar ini muncul dipermukaan bumi Indonesia. Bahkan dijadikan titel resmi sekaligus ‘plakat tingkat keimanan dan kekayaan seseorang’ yang bisa sangat besar kemungkinan rianya pada struktur sosial kita. Dan ironisnya, gelar dan kebanggaan haji ini hanya ada di Indonesia :)
 

 

Batik dan Maknanya

August 29th, 2008 by yanux

Img_0811Niat kita memasyarakatkan batik sepertinya dapat dikatakan berhasil. Hal inipun bukan tanpa sebab. Dalam waktu kurang dari setahun terakhir sejak Malaysia mencoba mengklaim batik sebagai kekayaan budayanya, warga Indonesia seolah terbakar semangat nasionalismenya. Batik berkembang dengan cepat menjadi sebuah trend.

Hampir setiap hari dapat kita jumpai para pengguna batik baik sebagai busana kerja, kostum kepesta, pakaian sehari-hari, bahkan baju tidur. Tentunya fenomena ini banyak menuai keuntungan, misalnya dari segi budaya maka terlihat Indonesia memiliki penduduk yang terkesan cinta akan karya negri sendiri. Sedangkan dari segi perekonomian sangat jelas meningkat pesat bagi para pembatik dan pedagang. Kemajuan positif yaitu tanpa campur tangan pemerintah ternyata masyarakat kita
telah mampu melaksanakan swadesi.

Konsep swadesi dipelopori oleh Mahatma Gandhi pada abad 19 guna melawan imperialisme Inggris. Selain memperjuangkan perekonomiannya, Gandhi juga berusaha mempertahankan kain sari sebagai jati diri bangsa yang wajib dilestarikan. Dan perjuangannya berbuah gemilang, hingga kini masih banyak warga India yang menggunakan kostum kain sari ketempat umum dan bahkan acara kenegaraan, sehingga merupakan kebanggaan India karena dunia internasional pun mengagumi eksotisme kain sari India.

Sejak awal pencanangan swadesi kain sari, rakyat India pun secara berkesinambungan melestarikan budayanya sebagai pakaian sehari-hari sehingga tak heran jika hingga kini kain sari masih terjaga eksistensinya. Hal ini berbeda dengan swadesi batik yang sekarang sedang terjadi di Indonesia.

Pada zaman Presiden Soeharto, Indonesia pernah berusaha menggerakkan swadesi batik melalui pakaian seragam sekolah batik sebagai atasan dengan dipadankan bawahan rok/celana berwarna putih. Batik juga pertama kali diperkenalkan kepada dunia oleh Presiden Soeharto, yang pada waktu itu memakai batik pada Konferensi PBB (Wikipedia). Sayangnya, seiring pergantian kepemimpinan (yang berganti juga peraturan—baca.era reformasi dan demokrasi ) maka seragam batik anak sekolah bukan lagi menjadi wewenang pusat. Mungkin jika warga kita mampu memahami esensi peraturan orde baru (yang belum tentu melulu salah itu), maka bukan tidak mungkin diera informasi ini, sekolah pun sejak dini memperkenalkan dan menanam kecintaan generasi penerus akan budaya sendiri melalui seragam batik.

Walau sempat terputus batikisasi kita, namun saat ini kita boleh sedikit bangga melihat perkembangan antusiasme masyarakat memakai batik disegala acara. Hanya saja jika dirunut sedikit akan sejarah dan filsafat batik, apakah sudah
relevan usaha berbatik ria ini dengan kesungguhan memaknai nilai-nilai budayanya??

Batik dalam bahasa Jawa dari kata ‘amba’ yang artinya menulis, dan ‘titik’. Tradisi membatik pada mulanya merupakan tradisi yang turun temurun,  ehingga kadang kala suatu motif dapat dikenali berasal dari batik keluarga tertentu. Beberapa motif batik dapat menunjukkan status seseorang. Bahkan sampai saat ini, beberapa motif batik tadisional hanya dipakai oleh keluarga keraton Yogyakarta dan Surakarta (wikipedia).

Setiap motif batik memiliki makna dan filosofisnya. Pada motif tertentu dianggap sakral dan hanya dapat digunakan pada acara khusus, serta kalangan tertentu. Berdasarkan fungsi kain batik dikeraton, batik hanya digunakan sebagai kain bawahan dan tidak umum jika digunakan sebagai kemeja. Dan setiap motif pun memiliki peruntukannya masin-masing. Contohnya ‘motif Sido Mukti’ (yang artinya ‘sido’ = jadi, dan ‘mukti’ = sakti) hanya boleh digunakan oleh kalangan keluarga keraton, ‘motif Wahyu Tumurun’ (yang artinya turunnya wahyu) digunakan hanya pada upacara jumenengan (perayaan ulang tahun naik tahta), ‘motif Parang’ yang bernuansa cukup ramai biasanya dipakai untuk acara pesta atau menghadiri suatu perayaan, terakhir untuk menghadiri lawatan kematian digunakan warna yang lebih lembut yaitu ‘motif kawung’, dan motif Kawung hanya boleh dipakai sebagai bawahan bukan baju atasan. Dan keempat motif batik tersebut hanya diperuntukan bagi keluarga keraton, dan tidak boleh digunakan oleh masyarakat umum (Sumber : Cak Roeslan).

Lepas dari empat macam motif batik yang telah disebutkan diatas, tentunya masih banyak motif lain yang berkembang dan tiap daerah penghasil batik akan memiliki ciri khas sendiri. Melihat kenyataan sekarang dimana asal tabrak sembarang motif dengan design terkini, tampaknya masyarakat hanya sekedar memakai batik sebagai suatu mode. Motif batik menjadi bias makna karena mode tak memahami nilai-nilai luhurnya. Nah, untuk tetap menghargai makna batik dan melestarikan kandungan nilai filosofi yang terkandung pada motif batik keraton maka akan lebih baik jika kita mengeksplorasi berbagai macam kreasi model pakaian dari kain batik ini dari motif-motif lain diluar yang sudah menjadi pakem keraton.

Jika masyarakat kreatif merancang busana batik diluar motif-motif yang sudah
memiliki pakem nilai, maka batik akan tetap memiliki nilai tinggi dimata dunia.
Karena jika untuk batik motif tertentu, kita mau menghargai dan melestarikan
kandungan maknanya maka boleh jadi kita juga dapat disebut sebagai negara yang menghargai nilai-nilai luhur budaya bangsa. Dengan begitu, tentunya dunia akan dapat menghargai Indonesia sebagai negara yang mau menjaga kelestarian makna batik sendiri dan memahami filosofi budayanya sendiri.

Fenomena batik hampir sama seperti Islam di Indonesia. Agama Islam menjadi agama mayoritas yang dianut lebih dari setengah jumlah total penduduk. Namun sayangnya seperti juga batik, dimana banyak yang sekedar hanya memeluk Islam tanpa benar-benar memahami esensi dan maknanya. Apalagi untuk benar-benar menjalankan kandungan filosofi ajaran Islam, lah wong bisa jadi untuk memahami maknanya saja kita masih jauh dari itu. Wallahualam.

Marah itu Melelahkan

August 7th, 2008 by yanux

Perihal menangani emosi dan egois adalah masalah kebiasaan menyingkapi. Seperti saya, terbiasa menyingkapi marah secara spontan dan dalam waktu yang lama. Marah yang timbul hanya karena keadaan tidak seperti yang sudah dibayangkan dan dirancang, maka secara spontan marahlah saya, bahkan hal kecil yang membuat saya hanya tidak nyaman pun dapat menjadi pemicunya.

Padahal seringkali orang yang menyebabkan angan2 saya menjadi gagal pun
bingung, melihat kemarahan ini yang tiba-tiba. Juga orang yang tanpa sengaja
telah merusak rasa nyaman saya, terkadang tak habis pikir melihat bibir ini
yang seketika mengatupkan rapat-rapat dan menjadi irit bicara serta kata-kata.

Jika sudah marah, segalanya dan semua orang menjadi salah. Kemarahan terus saya kembangkan untuk membenarkan sikap marah pertama. Saya berusaha membenarkan diri bahwa saya berhak marah, karena ketidaknyaman (padahal bisa jadi karena saya hanya membesar2kan keadaan). Kekeliruan sedikit (bahkan yang tidak ada hubungan dengan marah pokok pun) akan membuat emosi dan kemarahan semakin menjadi-jadi. Maka tak pelak kemarahan yang spontan tsb memakan waktu cukup lama.

Hal diatas karena saya terbiasa menyingkapi marah dengan runutan marah selanjutnya. Tak sempat berpikir, bahwa orang disekeliling menjadi bingung dengan sikap saya dan juga perubahan raut wajah saya yang menjadi sangat buruk rupa. Sampai akhirnya saya merasa sangat capek, dan jika bukan karena ada hal yang baik sengaja atau tidak dapat merubah mood, maka tidur adalah solusi terbaik menuntaskan kedongkolan lokal saya itu.

Melihat sikap suami dan orang-orang terdekat yang menyingkapi segala keadaan dengan tenang, saya begitu malu dan iri! Mereka bijaksana mengelola perasaan, begitu dewasanya dengan segera memaknai hikmah disetiap keadaan sehingga tak sempat memberi ruang pada kejengkelan, dan begitu cerdasnya memerankan rasional menghadapi segala situasi yang bahkan menurut saya sangat tidak menyenangkan. Manifestasi semuanya membuat mereka terlihat selalu tenang dan nyaman.

Seorang guru berkata, bahwa marah adalah masalah kebiasaan menyingkapi. Ya.. mungkin saya terbiasa menyingkapi marah seperti itu, dan mungkin mereka-mereka (orang tenang) itu sudah terbiasa dan terlatih menyingkapi marah seolah-olah tak pernah mengenal istilah marah. Karena marah sungguh membuatku lelah, maka saya pun bertekad mengubah kebiasaan marah saya yang jelek itu!!

Pasti dibutuhkan latihan sejak dini untuk dapat menjadi orang tenang itu, dan untuk menunjang latihan perubahan sikap ini ada satu yang lebih penting, yaitu rasional. Rasional membangkitkan kesadaran, dimana saya harus sadar bahwa saya sedang latihan untuk merubah sikap menanggapi kemarahan sendiri, dan ketika api marah mulai tersulut, harus dengan segera berpikir rasional untuk sadar dengan segera memenjarakan sang amarah.

Sulit pada awalnya, untuk tetap tersenyum saat suami membuat ulah (padahal ini hanya perasaan saya sendiri). Hanya karena meletakkan barang tidak pada tempatnya saja, begitu terpancing emosi ini. Kebiasaan jeleknya (bagi saya, tapi mungkin bagi orang wajar saja – hanya karena kebiasaannya tidak seperti yang saya harapkan), sering membuat luput kesopanan dan akhirnya yang keluar dari mulut saya adalah intonasi sinis dan seringkali saya seperti anjing galak yang meyalak. Padahal dengan teguran halus, tanpa urat pun sudah pasti dia akan memindahkan sesuai keinginan saya. Tapi inilah ulah saya memanjakan emosi, sehingga marah kerap sekali meyambangi hati ini dan membuat diri ini terus berkubang disekitar kemarahan.

Namun sesulit apapun awal, harus tetap ditekadkan agar dapat memutuskan persahabatan dengan kejengkelan. Akhirnya saya dapat mencoba awalnya. Meski sangat berat proses ini, saya tetap usaha kurangi kegalakan dan sikap-sikap sinis. Mencoba cepat menancapkan pikiran logis, pada saat orang lain mengganggu keadaan nyaman ini. Memang tidak setiap kesempatan saya mampu mengendalikan marah, tapi paling tidak saya berusaha mengurangi frekwensinya.

Walau terkadang pembenaran bahwa emosi, jengkel, marah, dan kesal adalah hal yang sangat manusiawi, namun tetap saja saya tak mau menjalin hubungan dengannya. Karena hal-hal itu hanya membuat saya capek dan tidak mampu melihat kemurnian-kemurnian hidup, ditambah lagi banyak waktu terbuang dan memampatkan produktifitas karena seketika saja otak menjadi mogok bekerja seolah-olah menikmati si pemilik raga mengelus-elus egoismenya.

Semoga bukan hanya sekedar harapan saja, karena didepan masih sangat banyak hal-hal yang harus dihadapi. Jika sekedar emosi saja saya tak mampu menaklukkannya, bagaimana dengan seabrek persoalan lain yang masih banyak menghadang sedangkan tujuan hidup untuk memberi warna dunia masih jauh terhampar??

Arus Utama Islam (Chapter 4)

August 5th, 2008 by yanux

Perlunya mempelajari sejarah adalah agar kita tidak lagi mengulangi kesalahan yang sama dan membuat sejarah baru yang lebih baik dari sebelumnya. Kebiasaan, kepribadian dan persepsi kita bahkan keyakinanpun adalah produk warisan dari meniru tradisi sejarah. Contohnya saja agama Islam yang kita anut, tak ada pilihan selain harus sesuai keyakinan orangtua. Dan dengan segala kekecewaan akan meremukkan hati mereka jika kita berani pindah agama lain, maka yang terjadi usaha-usaha pembenaran akan Islam pun tertanam dipikiran kita bahwa Islam adalah agama yang terbaik. Lepas dari bagaimana sejarah Islam sendiri, yang menjadi patokan pertama adalah bagaimana
pun Islam is the best.

Itulah arus utama paham umat muslim saat ini, arus utama yang menyatakan Islam selalu baik sejak zaman Rasulullah dari mulai adat kebiasaan, kesopanan, politik, kepemimpinan, toleransi, dan pokoknya menyeluruh dari hablum
minallah
sampai hablum minannas. Islam adalah agama yang sempurna. Hingga tanpa disadari esensi ibadah sering luput karena kita melaksanakan syariat-syariat tanpa mencari tahu kebenarannya dari meniru pendahulu yang kita anggap sudah pasti benar, bahkan bertanya kelogisan syariat pun dianggap tabu.

Sejarah yang diwariskan berisi kebaikan memang wajib disampaikan untuk kemashlahatan, namun bukan berarti keburukan ditutup-tutupi hanya agar generasi penerus tidak melihat ada stigma didalam sejarah. Keotentikan sejarah pun harus selalu di up grade relevansinya supaya tetap sesuai pada zamannya, jika ada petuah sejarah yang sudah tidak relevan lagi maka lebih baik diabaikan saja. Apapun bentuk sejarah, keorosinilannya harus selalu dijaga sebagai bahan studi generasi mendatang.

Halnya dengan sejarah Islam, tradisi, cara beribadah dan persepsi yang diyakini warisan Rasulullah, arus utama muslim saat ini menyatakan kesempurnaan Islam dari segala sudut pandang. Padahal arus utama ini bisa jadi karena mengungkap keburukan Islam dianggap salah, fakta tentang keburukan Islam dianggap dapat merusak ahli waris. Cacat-cacat sejarah Islam ditutupi oleh penguasa-penguasa Islam yang dianggap amirulmukminin, agar aib tak terburai. Atau mungkin distorsi persepsi sehingga sampailah produk muslim saat ini yang ‘mengagungkan’ Islam itu sendiri. Menentang arus utama dianggap tiada!

Tapi apa salah jika kita memiliki aib? Belajar dari kesalahan. Seperti filosofi master Oogway (Kung Fu Panda) :”yesterday is a history, today is a gift, and
tomorrow is a future. That’s why we call today as a present
(hadiah)”.

Mungkin kebetulan saja saat ini adalah era keterbukaan berpikir dan keterbukaan informasi, ditambah lagi kemudahan akses melalui internet membuka keran kebenaran dari segala sudut pandang yang selama ini tersumbat, dapat menyegarkan umat muslim yang haus kebenaran. Seperti tulisan Irshad Manji penulis asal Kanada (Beriman Tanpa Rasa Takut – dapat diakses diinternet), begitu cerdas mengulas perspektif Islam dari seorang muslim refusenik yang mencari kebenaran dengan fakta-fakta dan analisa
yang tajam. Inspiratif menggugah mindset yang selama ini menjadi arus utama muslim, dengan ulasan yang tak terbantahkan. Untuk sebuah pencerahan, buku ini sangat baik dibaca!

Atau mungkin sejak dahulu, pendahulu kita juga sudah berusaha membeberkan dan terbentur ruang karena kurangnya fasilitas penyebar berita. Atau mungkin tersekat ruang gerak karena ulah pemimpin yang berkuasa. Wallahu’alam.

Namun kabar baik dari negeri sendiri, seperti mengiringi era keterbukaan ini dengan rencananya penerbit Paramadina turut serta mengedarkan terjemahan penulis Mesir, Faraj Fouda (dibunuh dikantornya pada 8 Maret 1992 karena dituduh murtad) dalam karyanya, al-Haqiiqa al-Ghaaibah (Kegelapan yang
Hilang)—yang dengan sangat berani membongkar sisi-sisi gelap sejarah Arab
muslim di masa lampau (Ahmad Syafii Maarif, Gatra no.38/2008).

Pendiri Maarif Institute dan sekaligus Guru Besar Sejarah tsb berpendapat agar umat Islam jangan ‘memberhalakan’ masa silam, seakan-akan semuanya itu bebas dari cacat. Kecuali era Nabi Muhammad SAW dan ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz, khalifah-khalifah yang lain, baik Umayyah maupun Abbasiyah, hampir semua berkubang dalam kemewahan, kekejaman, dan pesta-pora. Sejarah buruk agar dijadikan cermin untuk dapat mengulangi tindakan yang benar seperti saat perang di era Rasulullah yang terjadi semata-mata untuk mempertahankan diri, demi tegaknya keadilan, keamanan, kebenaran, dan persamaan. Kebijakan nabi selalu diarahkan untuk terwujudnya nilai-nilai mulia sebagai cerminan rahmat Allah untuk seluruh manusia, termasuk mereka yang tidak beriman.

Bisa jadi tulisan Irshad dan Guru Besar Sejarah di atas adalah hanya secuil dari terungkapnya kebenaran-kebenaran yang selama ini kita yakini, sehingga adalah tugas besar untuk dapat merubah keyakinan arus utama selama ini yang mensakralkan agama Islam ketimbang Allah itu sendiri. Istilah Cak Roeslan adalah mendesakralisasi tauhid. Namun pertanyaannya, apakah sudah siap jika kita hanya menjadi batu kecil pemecah riak dan bahkan tenggelam dari derasnya arus utama muslim kita selama ini??

Menurut Cak Nun, ada 3 jenis kebenaran. Pertama kebenaran diri sendiri, kedua kebenaran umum (dimana suatu kebenaran diyakini oleh mayoritas setempat), dan ketiga adalah kebenaran itu sendiri. Maka, kebenaran manakah yang selama ini kita yakini??

Wallahu’alam..

The Dark Knight (Review)

July 26th, 2008 by yanux

Batman_1

Kesan pertama pada saat menyaksikan film Batman yang berjudul The Dark Knight garapan sutradara Christopher Nolan, begitu membuat saya jengkel akan karakter Joker (alm. Heath Ledger) yang tak ada hentinya berada diatas angin. Pada detik kurang lebih limabelas menit terakhir, baru saya dapat tersenyum melihat kemenangan Batman sudah didepan mata.

Sungguh bukan tontonan yang baik dikonsumsi untuk anak-anak, karena film ini syarat akan kekejaman dan adegan brutal (inilah yang membuat saya begitu keki). Padahal banyak orangtua yang terkecoh dengan mengajak anaknya turut serta memboyong kebioskop karena berpatokan versi komik yang notabene memang layak untuk anak-anak (ada baiknya orangtua melihat resensi sebelum memutuskan mengajak putra-putrinya), kecuali pabila si anak sudah mampu memilah dan cukup dewasa membedakan yang baik dan yang buruk maka akan sah-sah saja.

Tawaran untuk kedua kali menonton film sekuel Batman ini tidak saya tampik,
karena pada saat tontonan kedua inilah saya baru dapat menikmati jalan cerita
dan makna luhur dari setiap adegan. 

Film ini secara keseluruhan menonjolkan sisi manusiawi dari setiap karakter
yang dimainkan. Sisi heroik Batman yang diperankan Christian Bale terkesan
sangat wajar, tidak terlalu berlebihan. Sebagai pahlawan yang mengandalkan kecerdasan, teknologi dan kekuatan fisik yang terbatas, Batman mampu menggagalkan lawannya.

Dalam film ini Batman pun memiliki sisi lemah, pada saat hatinya terkoyak akan perasaannya terhadap mantan kekasihnya Rachel (Maggie Gyllenhaal) yang kemudian tewas ditengah kepungan drum bensin yang siap diledakkan bom permainan Joker. Secara tidak langsung Batman mengalami pencerahan akan tujuan hidupnya dari pernyataan-pernyataan jaksa Harvey Dent (Aaron Eckhart) yang adalah kekasih dari Rachel. Batman sempat bingung akan jati dirinya, dan putus asa hingga hampir membuka identitasnya akibat teror-teros Joker demi menyelamatkan warga Gotham. Keniscayaan yang dialami bahkan oleh seorang yang digembor-gemborkan sebagai pahlawan.

Harvey Dent yang dipenuhi idealisme akan cita-citanya membangun kembali Gotham pun mengalami guncangan hebat hingga dapat berubah 100%. Niat baiknya membenahi kekacauan birokratik dan kesulitannya menguak praktek korupsi dikepolisian, yang semula berusaha tetap dijalur hukum kemudian menjadi hilang akal sehatnya dan main hakim sendiri terhadap tikus-tikus negara yang terlibat persekongkolan membunuh kekasihnya Rachel. Kondisi kemarahan besar dan aksi provokatif joker membuat Harvey tak mampu mengontrol emosi dan logikanya. Situasi yang begitu wajar pada ego manusia karena perubahan adalah alamiah dan pasti.

Saatnya bicara karakter Joker. Biasanya penjahat itu memiliki motivasi tertentu untuk melakukan perbuatannya, tapi lain halnya dengan Joker. Kalau jawabannya uang, sudah pasti jauh dari angka benar. Lihat saja dari kelakuannya, apa orang seperti Joker butuh uang? tentu jawabannya tidak karena dengan ringan hati Joker membakar gunungan uangnya. Dengan kekuasaan pun, hampir pasti bukan karena walaupun dia menginginkan anak buah mafia menjadi pengikutnya dipastikan alasannya agar dia mampu menjalankan rencananya dengan baik dari bantuan bawahannya itu. Apakah Joker ingin menjadi penguasa kota Gothampun, juga bukan jawaban pasti karena dia sangat tidak butuh kekuasaan. Joker  hanya ingin tetap
memiliki lawan yang seimbang dan menang dengan membuka topeng batman.

Joker tidak jahat, dia psikopat. Psikopat adalah keadaan psikiatri berupa kurangnya empati atau kepedulian disertai minimnya kontrol impuls dan perilaku (Nalini, (22/7/08) kompas). Historikal bersama ayahnya menanamkan panyakit ini sedikit demi sedikit. Ditambah lagi istrinya meninggalkannya setelah Joker melukai wajahnya agar istrinya terhibur dan tersenyum karena berusaha menyeimbangkan kondisi fisiknya. Padahal Joker begitu mencintai istrinya. Saat melihat sitrinya meningggalkannya, Joker malah tersenyum dan mulai menjadi psikopat.

Pada awalnya Joker sama seperti manusia normal (walaupun parameter normal agak bias), artinya karakternya wajar dan memiliki kepedulian (bukti dari ceritanya ia pernah memiliki istri). Perlakuan orang-orang terdekat yang malah secara signifikan membuat Joker menjadi kehilangan empati dan menjadi pesakitan. Dihidupnya Joker mencari kesenangan dari apa yang dilakukan. Joker sangat cerdas, baginya tak ada yang mampu menyaingi kelicikan pikirannya selain Batman. Kreativitas destruktif yang mambahayakan banyak orang.

Joker tidak pernah terlihat sedih, pada saat Batman membenturkan kepalanya dan meremukkan jemarinya, Joker hanya tersenyum dan tertawa kecil. Bahkan pada saat dilempar oleh Batman dari gedung tinggipun, Joker tertawa lepas menyambut kematiannya. Namun Batman menggagalkan kematian Joker dengan menangkap kembali setelah Joker terhempas dari setengah ketinggian gedung.

Tidak semua sisi Joker terlihat jahat dan buruk, kata-kata yang dikeluarkannya banyak menyiratkan kebenaran yang sangat masuk akal.

Gotham seperti halnya negara kita, dipenuhi oknum-oknum korup  di kepolisiannya dan bahkan ditingkat komisarisnya keatas. Joker mampu mengubah mind set Harvey bahwa lebih penting membenahi korupsi  lebih dahulu ketimbang membasmi mafia hingga keakar karena korupsi sendiri adalah lebih ‘mafia’ dari mafia sendiri. Terbukti akibat korupsi mampu menghancurkan hampir seluruh kota Gotham (mungkin pada gilirannya Indonesia akan mengalami kehancuran yang sama jika tak segera memberantas tradisi korup ini).

Latar belakang profesi jaksa yang digeluti Harvey membuatnya mematuhi hukum yang berlaku. Padahal dalam hal hukum, Batman memiliki kesamaan dengan Joker yaitu sama-sama tidak mengikuti aturan hukum dalam aksinya. Bagi Joker hidup tanpa aturan dan hukum adalah yang paling logis saat ini (filosofi yang masuk akal dan sangat up to date, mengingat dengan aturan saja malah tidak membuat dunia lebih baik). Masih dari kata-kata bijak Joker, bahwa penyebab kekacauan adalah rasa takut.

Bisa jadi kekacauan yang terjadi dikota tersebut bukan karena Joker yang merencanakan semua, tetapi karena ketakutan warganya, ketakutan dalam menguak kebenaran, ketakutan dalam menumpas korupsi, ketakutan himpitan keadaan yang memaksanya korupsi dan berkolusi.

Namun untuk mengungkapkan kebenaran sepertinya tidak harus mentah-mentah dibeberkan. Pelayan setia milyader ‘Batman’ Bruce Wayne yaitu Alfred, memilih secara bijak tidak menyampaikan surat yang dititipkan kepadanya dari Rachel untuk sang master. Alfred melindungi hati masternya dengan membiarkannya tetap pada persepsi awalnya terhadap Rachel ketimbang memberitahukan keadaan isi hati Rachel yang sebenarnya. Karena toh dengan memberikan surat juga tidak dapat menghidupkan Rachel dan malah membuat hati Bruce semakin luka (dan pula surat itu hanya Alfred dan kematian Rachel yang tahu). Kebenaran yang satu ini menjadi tidak wajib untuk sampaikan. (mungkin perlu untuk menutupi satu kebenaran jika dapat memberikan banyak kebaikan untuk yang lain).

Begitulah karakter yang diwakilkan dari pemeran film The Dark Knight ini, terasa begitu wajar dan membuat film ini mengajarkan kebajikan dan terkesan sangat manusiawi. Kualitasnya sangat timpang dibandingkan sinetron kita yang hanya menonjolkan karakter hitam putih dan jauh dari sifat edukatif.

Kalimat terakhir yang bagus untuk dijadikan bahan renungan bagi kita semua pada suatu pilihan yaitu “mati sebagai pahlawan atau hidup lama tapi perlahan-lahan menjadi penjahat”. Bisa saja anda memilih hidup dengan cap pahlawan ketika matinya dimana masyarakat begitu mengagungkan dan memuliakan anda, atau anda seperti Batman dan Joker yang memilih masyarakat tetap membencinya dan menjuluki sebagai penjahat. Mereka berdua tidak mengharap satu pamrih pun akan apa yang dilakukannya kecuali hanya ingin beraksi saja mengikuti naluri. Bisa jadi dunia memang tetap membutuhkan kehadiran pesakitan seperti Joker sehubungan dengan menjaga keseimbangan dengan hadirnya karakter Batman di dunia ini.

Seperti layaknya kemauan Nolan pada film ini yang semaunya sutradara membuat karakter-karakter dan adegan-adegan yang banyak kebetulannya ini. Begitu juga tentunya untuk kehidupan nyata yang suka-suka Tuhanlah sebagai sutradara dunia yang men-setting untuk hidup kita lengkap dengan karakter dan keadaan-keadaan ‘kebetulan’ yang kerap menyerempet dikehidupan kita yang sering kita tidak sadari untuk mensyukurinya. Wallahu’alam